• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Nitisemito: Dari Kusir Delman Menjadi Raja Kretek dari Kudus

    , 12.41 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Nitisemito: Dari Kusir Delman Menjadi Raja Kretek dari Kudus
     Nitisemito: Dari Kusir Delman Menjadi Raja Kretek dari Kudus

    Wonosobo Media - Di Kudus, aroma tembakau seperti sudah menjadi bagian dari udara. Pagi-pagi, orang bisa mencium wangi cengkeh dari gang-gang sempit, dari rumah-rumah produksi kecil, sampai pabrik besar yang berdiri megah. 


    Kretek di kota ini bukan sekadar rokok, melainkan sejarah panjang tentang perjuangan, keberanian, dan cara orang kecil mengubah nasib, kalau bicara sejarah kretek di Kudus, nama Nitisemito hampir selalu muncul paling depan.


    Ia sering disebut sebagai “Raja Kretek” atau bapak industri kretek Indonesia. Tapi siapa sangka, sebelum dikenal sebagai pengusaha besar, hidup Nitisemito justru lebih dekat dengan cerita rakyat kecil: pernah jadi buruh jahit, berdagang minyak kelapa, menjual kerbau, sampai menjadi kusir delman.


    Nama kecilnya adalah Roesdi. Ia lahir di kawasan Janggalan, Kudus, dari keluarga yang sebenarnya cukup terpandang. Ayahnya merupakan seorang kepala desa. Namun berbeda dengan kebanyakan anak pejabat desa pada masa itu, Roesdi tidak terlalu tertarik mengikuti jejak keluarganya.


    Saat masih muda, ia berangkat ke Malang untuk mencari kehidupan baru. Di sana ia bekerja sebagai buruh jahit. Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari situlah insting dagangnya mulai terbentuk. Tidak lama kemudian, ia bahkan mampu membuka usaha konveksi sendiri.


    Sayangnya, usaha tidak selalu berjalan mulus. Persaingan dagang membuat bisnisnya perlahan goyah. Roesdi akhirnya kembali ke Kudus tanpa membawa kesuksesan besar seperti yang dibayangkan sebelumnya.


    Namun justru di titik itulah hidupnya berubah, Sekembalinya ke Kudus, ia mencoba berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. 


    Kadang berdagang minyak kelapa, kadang menjual kerbau, bahkan pernah menjadi kusir delman. Hidupnya berpindah-pindah seperti orang yang masih mencari jalan. Sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan bernama Nasilah, penjual rokok kretek asal Singocandi.


    Pertemuan itu bukan sekadar soal jodoh, tetapi juga awal lahirnya sebuah industri besar. Kala itu, kretek sebenarnya belum dianggap bisnis bergengsi. 


    Rokok kretek masih dijual sederhana, tanpa merek yang jelas. Produksinya pun rumahan. Orang membuatnya sekadar untuk dijual di pasar atau warung sekitar.


    Tetapi Nitisemito melihat sesuatu yang berbeda, ia merasa rokok bisa dijual lebih modern. Bukan cuma sebagai barang dagangan biasa, melainkan produk yang punya identitas. Dari situlah ia mulai membuat merek sendiri. Awalnya ia mencoba beberapa nama, tetapi tidak terlalu berhasil.


    Sampai akhirnya lahirlah merek legendaris “Tjap Bal Tiga”. Nama itu kemudian dikenal luas hingga berbagai daerah di Hindia Belanda. Kretek buatan Nitisemito perlahan berubah dari usaha kecil menjadi industri raksasa.


    Ada hal yang membuatnya berbeda bukan hanya soal rasa rokok, melainkan cara berpikirnya yang jauh melampaui zamannya. Ketika banyak pedagang masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, Nitisemito sudah memakai iklan di surat kabar. 


    Ia mengadakan pertunjukan hiburan untuk menarik perhatian masyarakat. Bahkan dalam beberapa catatan sejarah, ia disebut pernah menyebarkan brosur promosi menggunakan pesawat terbang.


    Bayangkan saja, pada masa ketika sebagian besar rakyat masih hidup sederhana dan transportasi saja belum mudah, ada seorang pengusaha pribumi dari Kudus yang sudah berpikir tentang branding dan pemasaran modern.


    Itulah yang membuat nama Nitisemito cepat melesat. Pabriknya berkembang besar. Ribuan orang bekerja di sana. 


    Produksi rokoknya mencapai jutaan batang setiap hari. Di masa itu, keberhasilan seperti ini sangat jarang dimiliki pengusaha pribumi.


    Karena itulah ia dijuluki “De Kretek Koning” atau Raja Kretek. Namun seperti banyak kisah besar lainnya, kejayaan tidak berlangsung selamanya.


    Krisis ekonomi dunia, perubahan situasi politik, hingga persoalan internal perusahaan membuat usaha Nitisemito perlahan mengalami kemunduran. 


    Meski begitu, namanya tetap tercatat sebagai salah satu pelopor industri kretek terbesar di Indonesia, menariknya dari kisah Nitisemito sebenarnya bukan cuma soal kekayaan atau besarnya pabrik rokok yang pernah ia miliki. 


    Ada sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang hari ini: tentang seseorang yang berkali-kali mencoba sebelum akhirnya menemukan jalan hidupnya.


    Ia tidak langsung sukses sejak muda, tentu pernah mengalami kegagalan. Pernah jatuh, berpindah pekerjaan tanpa kepastian. Tetapi dari semua perjalanan itu, ia justru menemukan pengalaman yang membentuk cara berpikirnya.


    Mungkin karena itulah kisah Nitisemito masih terus dikenang sampai sekarang. Sebab di balik asap kretek yang membubung dari Kudus, ada cerita tentang keberanian seorang lelaki desa yang tidak menyerah meski hidup berkali-kali mengubah arah.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +