![]() |
| Mbah Hasbulloh Bumen dan Terbang Jawa, Warisan Dakwah yang Nyaris Pudar di Wonosobo |
Wonosobo Media - Seperti halnya tokoh-tokoh lainnnya dalam kiprah nguri-uri tradisi hingga bagian dari dakwah yang disemai oleh salah satu penggerak Nadhlatul 'Ulama di Wonosobo, yaitu KH Hasbulloh atau Mbah Hasbulloh Bumen, Bumirejo, Mojotengah.
Disebutkan juga, KH Hasbulloh Bumen juga pernah menjadi utusan Wonosobo pada Muktamar NU ke-4 (12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M) yang diselenggarakan di Hotel Arabistan Semarang.
Kiprahnya dalam dakwah, juga sembari berjuang melawan penjajah kala itu, dakwahnya ini juga mudah dipahami dan berkesan di masyarakat dengan cara yang halus dan pijakannya senantiasa merawat ukhuwah.
Dari segi pola dakwahnya juga secara bil hal atau tindakan dengan ragam cara yang khas dan menarik di hati para mad'u atau masyarakat, terutama di Wonosobo dan sekitarnya.
Misalnya agar masyarakat di sekitar Wonosobo tertarik dengan pengajian atau mengaji intinya, menggaet dengan cara mengadakan rebana kentrungan.
Terbang atau rebana itu juga masih khas lantunan syiir yang ditembangkan, hingga aransemen lagunya juga masih klasik lagu Jawa.
Diceritakan oleh salah satu keluarga Mbah Hasbulloh Bumen, pada saat itu terbang Jawa itu beli dari Demak, dengan total keseluruhan sekitar 6 alat musik yang ditabuh itu.
"Alat musik itu untuk mengikat masyarakat Manggisan agar mengaji dengan Mbah Hasbulloh." Ujar Kiai Muslih.
Kemudian ia juga menceritakan antusias masyarakat ketika ada Mbah Hasbulloh Bumen tindak atau datang ke Manggisan (salah satu desa di Wonosobo), dengan mengilustrasikan "Mbah Hasbulloh rawuh, Mbah Hasbulloh rawuh, mayo pada ngaji.." imbuhnya.
Ketika masyarakat sudah berkumpul, lalu mengaji dengan Mbah Hasbulloh, dan dengan terbang Jawa yang diinisiasi oleh kiai Bumen tersebut diselingi lantunan syiir-syiir tema ketauhidan.
Sampai sekarang ini alat musik tersebut juga masih ada, sayangnya orang yang bisa memainkannya sudah jarang yang bisa, sehingga beberapa tahun, di Manggisan biasanya setiap Syawal kerapkali dibawakan untuk meramaikan suasana lebaran kini sudah tak begitu ada.
Kini, tinggal kenangannya dan sebuah alat musik yang masih tersimpan rapi di rumah Pak Zaidun selaku tokoh agama, atau kerap disapa pak kaum ini ada sebuah kepingan-kepingan syiir yang masih bisa diingat untuk dibawakan kembali di lain kesempatan.***

