• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Perjumpaan Agung dalam Suluk Setahun: Dun-Dunan Langit, Kaca Rasa, dan Ajur-Ajer Kehidupan

    , 19.58 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    warok temanggung
    Perjumpaan Agung dalam Suluk Setahun: Dun-Dunan Langit, Kaca Rasa, dan Ajur-Ajer Kehidupan


    Wonosobo Media - Perjumpaan dengan ragam tokoh, akademisi, hingga tokoh spiritual, penghayat, majelisan, club apapun itu, beragam lintas yang tidak bisa disebutkan seluruhnya selama suluk perjalanan setahun ini seperti hal yang tidak bisa direncanakan dan disangka-sangka.


    Saya kira hal ini bagian dari sebuah rezeki ibarat sebuah kalimat yang sering buat guyonan celetukan yaitu "dun-dunan langit" yang patut disyukuri.


    Bukan pada sebuah kebanggaan bertemu dengan siapa, berjumpa dengan apa yang ranahnya validasi tertentu, tapi saya anggap ini diberikan untuk senantiasa belajar, sinau dari fenomena, peristiwa yang telah berlangsung.


    Mengutip pak beu, ada istilah "bukan kita yang mencari sendok, tetapi sendoklah yang singgah kepada kita". Persinggungan dan perjumpaan yang bisa dibilang perjumpaan agung ini membawa pengalaman tersendiri. Seperti kutipan kaca rasa, tidak selalu dipertemukan dengan hal yang dicap baik saja. 


    Urusan baik-buruk pun relatif. Tetapi yang diambil pesannya adalah kaca atau cerminan diri, ya kalau diri kita ini meng-cap seseorang kurang baik, boleh jadi di kesempatan hari diri kita ini juga begitu. 


    Sehingga kaca rasa ini, dalam proses pencarian diri perlu berhati-hati agar tak terjebak dengan cermin dari diri sendiri.


    Dimana dalam urusan hal yang baik pasti sesuai dengan kepentingannya, sedangkan hal yang buruk seolah-olah tidak tepat bagi diri kita.


    Kembali pada perjumpaan ruang waktu, lintas keyakinan, cara pandang ini bukan berarti sok-sokan, tetapi pijakannnya adalah ajur-ajer.


    Urusan keyakinan ini sendiri letaknya pada dapur, ketika bercengkrama berinteraksi beda pandangan keyakinan itu porosnya adalah kebijaksanaan. Lebur ajur-ajer dengan orang lain ini tentunya bukan peneguhan tentang identitas tertentu atau ego diri.


    Hal itu sendiri yang menjadikan diri ini banyak belajar, selain untuk legawa juga menerima dan membiasakan "ora kudu", ora kudu ngene ora kudu ngana, ya biasa-biasa saja.


    Kemudian dipertemukan dengan peristiwa yang sedang menyusun sebuah puzzle kepingan dari jaringan leluhur masa lalu baik kitab beraksara pegon-hanacaraka, serat, getok tular hingga sanepan-sanepan.


    Hingga ketika bertanya perihal latar belakang asal, clue-clue, timbul ungkapan "ojo-ojo taseh sak tunggal anak putu mas?".  "Waduhh, putune Mbah Adam, nggih", jawab saya sambil cengengesan. 


    Allahumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii, Ya Tuhan, sebagaimana Engkau baguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku."

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +