![]() |
| Membaca Empat Harokah KH Hadlor Ihsan: Dari Jamaah, Jam’iyah, hingga Kemandirian NU/Foto:alishlah_mangkang. |
Wonosobo Media - KH Hadlor Ihsan adalah sosok kiai yang tak pernah kehabisan ide. Dalam perjalanan dakwah dan pengabdiannya, setidaknya ada empat karakter harokah (gerak perjuangan) yang bisa dibaca dari kiprahnya.
Kiprah dan peran KH Hadlor Ihsan ini pun tentu bukan sekadar konsep, tapi benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata.
Sebagaimana dikatakan oleh KH Anasom, selaku kerabat dekat Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Mangkang ini mengatakan ada 4 harokah yang bisa kita gali dan teladani dari sosok Abah Hadlor.
Pertama, Harokah Jam’iyah: Menghidupkan Organisasi dari Akar
Sebagai Rois Syuriah NU Cabang Kota Semarang Jawa Tengah, KH Hadlor Ihsan dikenal kuat dalam penguatan jam’iyah (organisasi). KH Hadlor tidak berhenti di level struktural, tapi benar-benar menghidupkan roda organisasi hingga tingkat kecamatan, khususnya di Kota Semarang.
Periode ini berada di kisaran awal 2000-an, masa yang tidak mudah. Indonesia baru saja melewati krisis 1998, kondisi sosial-ekonomi belum stabil. Namun justru di situ, NU hadir sampai melalui berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat.
Bagi KH Hadlor, organisasi bukan sekadar struktur tetapi harus hidup, bergerak, dan terasa manfaatnya.
Harokah Jamaah: Menguatkan dari Basis Umat
Kedua adalah harokah jamaah, selain memikirkan sebuah organisasi, KH Hadlor juga memberi perhatian besar pada jamaah. Baginya, kekuatan jam’iyah tidak akan kokoh tanpa fondasi jamaah yang kuat.
Sehingga Abah hadlor, sapaan akrabnya, menawarkan berbagai ide untuk menguatkan jamaah, yaitu dengan membangun kesadaran bahwa perjalanan dari jamaah menuju jam’iyah adalah hal yang penting.
Jamaah tidak hanya hadir sebagai peserta, tapi juga sebagai bagian dari gerak kolektif, sebab keberadaan kelompok-kelompok jamaah menjadi perhatian serius beliau. Dari situlah denyut NU dijaga.
Harokah Pemikiran: Meneguhkan Aswaja dalam Kehidupan Nyata
Ketiga Harokah dalam bidang pemikiran, KH Hadlor Ihsan konsisten menguatkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Apa yang dikerjakan atau dikonsepkan tidak berhenti pada wacana, tapi diwujudkan dalam forum-forum kajian yang hidup.
Salah satunya adalah kegiatan rutin Ahad Pahing 79 di Kantor NU Semarang. Meski awalnya dikenal sebagai pengajian pasca haji, forum ini berkembang menjadi ruang penguatan pemahaman Aswaja yang cukup signifikan.
Lebih dari itu, ada juga tim kajian yang aktif melayani masyarakat baik melalui tulisan, gagasan, dan pendampingan. KH Hadlor sendiri hadir sebagai mentor, mengawal langsung arah pemikiran yang berkembang.
Harokah Spiritual dan Kemandirian: Dari Doa ke Aksi Nyata
Terakhir, ada Harokah Spiritual. Memasuki periode kedua sebagai Rois sekitar tahun 2001 (bersama Ketua KH Busyairi Kharis), lalu kembali terpilih pada 2006 (bersama Kiai Kabul Supriyadi), sebagai ketua Tanfidz kala itu, KH Hadlor mulai memikirkan satu hal penting: kemandirian organisasi.
KH. Hadlor melihat bahwa organisasi tidak bisa terus bergantung pada urunan jamaah. Harus ada sumber daya mandiri.
Berangkat dari situlah muncul gagasan membangun lembaga ekonomi. Dimulai dari embrio BMT di Gunungpati, yang kemudian berkembang di tingkat kota. Selain itu, juga didirikan KBIH NU sebagai bentuk pelayanan sekaligus penguatan kelembagaan.
Sejak memiliki dua lembaga ini, NU Kota Semarang mulai memiliki daya dukung sendiri, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kontribusi jamaah.
Tetap Mengabdi, Meski Tak di Struktur
Menariknya, meski pada periode berikutnya KH Hadlor Ihsan tidak lagi menjabat sebagai Rois, di era Tanfidz KH Anasom dan Syuriah KH Shodiq Hamzah, kiprahnya tidak pernah berhenti.
Abah hadlor Ihsan tetap aktif di KBIH NU dan terus ngopeni jamaah Ahad Pahing. Meski secara tidak menjabat dalam structural, namun keteguhannya untuk organisasi tetapi konsisten tanpa bergeser, pengabdiannya tidak berkurang. KH Ahmad Hadlor Ihsan tetap menjadi mentor, tetap menghidupkan jam’iyah dari dalam atau akar rumput.
Gerak yang Tak Pernah Selesai
Nah itu beberapa peran dan kiprah dari KH Hadlor Ihsan, yang dikategorikan menjadi empat harokah, meliputi jam’iyah, jamaah, pemikiran, dan spiritual, yang menjadi wajah perjuangan KH Hadlor Ihsan.
Semua yang dipikirkan dan dijalankan oleh beliau bermuara pada satu hal: li i’la’i kalimatillah, meninggikan kalimat Allah melalui jalan NU.
Berangkat dari saripati hikmah, teladan hingga laku dari Abah Hadlor ini kita dapat belajar, bahwa perjuangan tidak selalu harus besar. Tapi harus terus bergerak, “terus lumaku tansah lelaku” ibarat istilah Jawanya.
*Tulisan ini diambil dari kutipan "acara peringatan tujuh hari wafatnya KH Ahmad Hadlor Ihsan."

