• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Ziarah 16 Syawal: Napak Tilas Jaringan Murid KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo

    , 17.26 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

    Ziarah 16 Syawal: Napak Tilas Jaringan Murid KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo
    Ziarah 16 Syawal: Napak Tilas Jaringan Murid KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo.


    Wonosobo Media - Ada sebuah tradisi lebaran bernama "badan kupat" tradisi ini biasanya digelar setelah satu pekan lebaran di Pantura dengan kumpul bersama, berdoa dan saling menikmati sajian kuliner berupa kupat dan ubo rampenya.


    Lain halnya di Wonosobo, bagi warga Rifa'iyah ada sebuah tradisi ziarah napak tilas di sejumlah titik murid-murid KH Ahmad Rifa'i yang berada di Wonosobo.


    Diketahui, jaringan para murid KH Ahmad Rifa'i ini tersebar sekitar 6 titik wilayah di Wonosobo yang diziarahi, belum lagi murid generasi ke bawahnya yang juga pada saat itu berdakwah di Wonosobo dan sekitarnya dengan ajaran tarjumahnya.


    Sehingga familiar dengan "Santri Tarajumah" atau santri salak (diambil dari Kalisalak) salah satu tempat di Limpung yang pernah menjadi induk pesantren KH Ahmad Rifa'i.


    Pada 5 April 2026, telah berlangsung ziarah ke beberapa titik para murid KH Ahmad Rifa'i ini jamaah Rifa'iyah dari berbagai daerah di Indonesia memadati sejumlah lokasi makam masyayikh di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.


    Warga Rifa'iyah ini berbondong-bondong menghadiri peringatan 16 Syawalan, sebuah tradisi ziarah akbar yang dilaksanakan setiap tanggal 16 Syawal untuk mengenang murid-murid generasi pertama Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad yang berasal dari Wonosobo.


    Peringatan yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya, bisa dibilang selama lebih dari satu abad dan tidak hanya menjadi momentum spiritual belaka.


    Namun, menjadi ruang silaturahim yang mempererat persaudaraan antar warga Rifa’iyah dari berbagai penjuru Tanah Air, seperti Karawang, Batang, Pekalongan, Semarang, Purworejo, Pati, Jepara, Wonosobo dan wilayah lainnya.


    Suasana kekeluargaan dan kehangatan begitu terasa sejak para jamaah memasuki desa di beberapa titik makam murid generasi pertama KH Ahmad Rifa'i, seperti di Kalibening Krasak Mojotengah, Dalangan Kertek hingga di Tempursari, Sapuran, yang menjadi sebuah pusat kegiatan ziarah. 


    Tampak warga sekitar dengan sukarela menyediakan pos sedekahan yang menyajikan aneka makanan dan minuman bagi peziarah. 


    Atau juga di rumah-rumah warga di sekitar makam yang terbuka untuk siapa saja yang singgah dan beristirahat. 


    Berada di titik-titik ini, para tamu beristirahat, bercengkerama, dan bersantap sebelum atau sesudah menziarahi makam para ulama. 


    Bahkan tidak tepat pada tanggal 16 Syawalnya saja, jika jamaah yang datang dari luar Wonosobo ada yang singgah atau datang di hari sebelumnya, dan bakal dijamu dan dipersilakan dengan ramah hingga sampai pungkasan acara.


    Menariknya lagi, titik seperti ini dijumpai di setiap area ziarah di setiap desa yang ada makam dari murid KH Ahmad Rifa'i.


    Diketahui, ziarah 16 Syawalan ini menempuh rute yang tersebar di enam lokasi makam para masyayikh yang merupakan murid-murid utama Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad. Titik makam yang diziarahi ini antara lain:


    Syekh Hasan Thoyib dan Syekh Hasan Darda’, Kalibening, Krasak, Mojotengah, Wonosobo.

    Syekh Abdul Hadi, Dalangan, Kertek, Wonosobo 

    Syekh Abu Mansur, Syekh Ishaq, dan Syekh Abdul Ghoni, Ngadisalam, Sapuran, Wonosobo.

    Syekh Abdul Hamid dan Syekh Hasan Busyro, Karangsambo, Sapuran, Wonosobo.

    Syekh Abdul Aziz, Krajan Tempursari, Sapuran

    Syekh Abu Hasan, Bojong, Kepil, Wonosobo.


    Para tokoh ini dikenal sebagai generasi pertama murid Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad, yang berperan besar dalam menyebarkan ajaran dan semangat perjuangan sang guru di wilayah pegunungan Wonosobo dan sekitarnya.


    Napak Tilas Surat Wasiat dari Ambon


    Peringatan 16 Syawalan juga sarat nilai sejarah. Berangkat dari refleksi dan nyambung ikatan batin dengan para guru yang jika dirunut secara garis keilmuan bersambung kepada KH Ahmad Rifa'i. 


    Selain itu, tradisi ini merujuk pada surat wasiat terakhir Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad yang dikirim dari pengasingan di Batumerah, Ambon, pada 21 Dzulhijjah 1277 H atau sekitar tahun 1861 Masehi. 


    Juga tertulis pada sebuah catatan "Profil penerima gelar pahlawan nasional tahun 2004" yang ditulis oleh seorang keturunan dari salah satu murid KH Ahmad Rifa'i mencatat bahwa tanggal 16 Syawal 1859 masehi ini KH Ahmad Rifa'i di asingkan ke Ambon.


    Selain itu juga terdapat sebuah surat bertulisan Arab Pegon dan berbahasa Jawa itu ditujukan kepada menantunya, KH Maufuro bin Nawawi, di Kranggongan, Batang, sekaligus kepada para murid seniornya.


    Surat tersebut menjadi penghubung setelah sebelas tahun lamanya Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad tidak mengirimkan kabar kepada murid-muridnya di Jawa. 


    Menyusul surat itu, pada tahun berikutnya, yaitu 1870 atau 1286 H, para murid beliau, termasuk Kyai Hasan Dimejo bin Abu Hasan dari Kepil, Wonosobo, pada saat itu salah satu murid mengadakan ziarah dan doa bersama yang diyakini sebagai peringatan haul pertama Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad.


    Sehingga dipilihnya tanggal 16 Syawal ini tidak hanya waktu biasa tetapi memiliki makna mendalam dan sebagai nyambung ikatan batin dan berdoa, juga bukan sekadar rutinitas tahunan. 


    Bagi warga Rifa’iyah, kegiatan ini adalah cara untuk menyambung kembali tali ruhani dengan guru-guru mereka. Di sela-sela doa dan ziarah, jamaah merenungkan kembali ajaran Kyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad tentang tauhid, keistiqamahan, serta perlawanan terhadap kolonial hingga mengaitkan dengan konteks arah zaman sekarang ini.


    Melalui tradisi ziarah 16 Syawal ini menjadi pemantik dan pengingat bahwa pada tanggal tersebut pernah ada seorang tokoh yang berperan dalam melawan penjajah dan berdakwah menjalankan li ila likalimatillah dilakoni dengan perjuangan.


    Nah tinggal kita sekarang ini mau bagaimana? Melanjutkan perjuangannya atau tidak bukan? 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +