• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Ziarah ke Dero Duwur: Berjumpa dengan Santri Mbah Muntaha dan Belajar Suluk Tipis-Tipis

    , 21.12 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Ziarah ke Dero Duwur: Berjumpa dengan Santri Mbah Muntaha dan Belajar Suluk Tipis-Tipis.

    Wonosobo Media - Sekitar beberapa hari menuju Lebaran, atau tepatnya di penghujung bulan Ramadan 1447 H kemarin, berkesempatan berziarah kembali di makam Dero Duwur, yaitu Makam KH Asy’ari dan Mbah Muntaha. 


    Mendapati pengalaman yang istimewa bagi saya pribadi, sebab kala itu dapat berjumpa dan bersalaman dengan salah satu santri Mbah Muntaha langsung. 


    KH As’ad atau sapaan akrabnya pak As’ad, darinya kita dapat belajar banyak hal, arti ketawadhu’an, alim yang terpancar dan secara laku tindak-tanduknya kayaknya bersambung kepada gurunya, Mbah Muntaha. Saya jadi berandai seperti bertemu dengan Mbah Mun, meski itu subyektif dari sudut pandang saya sendiri.


    Namun memang demikian, dari apa yang sering diceritakan oleh pak As’ad sendiri bahwa di mata beliau, Mbah Muntaha itu tidak ada duanya, tidak ada yang lain. 


    Mbah Mun itu waktunya tidak ada yang mubadzir atau waktu kosong, semua halnya dilakukan untuk hal yang bermanfaat. Buah tidak akan jauh dari pohonnya, secara laku tentu santri bakal tidak jauh dari gurunya.


    Mbah Mun, dalan kegiatan harian, bangun jam 1 malam, wudhu kadang mandi, sholat, wiridan, manjing subuh sebelum subuh sudah sholat lagi, baru tindak ke masjid dan ngimami sholat subuh, dengan bacaan Al-Qur'an. 


    Diceritakan pak As’ad ada momemtum sholat jamaah tersebut setahun bisa khatam dimulai dengan satu Syawal dan khatam pada akhir Ramadhan, dibaca setiap Subuh.


    Sepotong kisah lainnya, saya dapatkan dari teman seperjuangan pak As’ad, yaitu KH. Thohir Mangkang Semarang, ketika saya sowan di ndalemnya Semarang, ia bercerita, waktu mondok di Kalibeber Mbah Muntaha pernah “suluk” atau tirakat, tabarukan di Dero Duwur bersama pak As’ad dan beberapa santri lainnya. 


    Sembari berkhidmah di Dero Duwur, juga mukim di maqbaroh KH. Asy’ari (ayah dari Mbah Muntaha) Yai Thohir meceritakan bagaimana perjuangannya, katanya dulu mengambil air wudhu masih ke bawah di sungai atau mata air, tentu tidak bisa dibayangkan seperti sekarang yang sudah lebih mudah. 


    Singkat cerita, selama 40 hari suluk tadi selesai, Mbah Mun menjemput santrinya ke Dero dengan mobil hardtop kata Yai Thohir. 


    Nah pesan apa yang bisa kita gali dan ambil hikmahnya? Ya salah satunya mencontoh lelaku itu mulai dari lahiriahnya syukur-syukur laku batin diusahakan pula, bagi awam memang perlu bertahap dari lahiriah nanti baru urusan batin sambil jalan. 


    Dalam arti mencontoh secara laku kasat mata sendiri dengan turut mencoba “suluk” juga tidak langsung 40 hari atau tujuh hari atau kelipatan lain, dikompres jadi 3 hari misalnya, diniatkan memperbaiki diri, mengingat dosa, ingin berproses menjadi manusia yang lebih baik dan “ngalap berkah” tentu dari semua harapan baik-baik semoga menyertai.


    Barangkali ini yang bisa disebut “suluk versi ringkas" dikompres dipadatkan, tapi tetap diniatkan utuh, dan entah kenapa, momen bersalaman itu seperti bukan sekadar kebetulan. 


    Ada rasa mendalam yang sulit dijelaskan seolah sebuah isyarat kecil, memohon izin, bahwa diri ini boleh ikut menapaki jalan itu. Wallahu a'lam bishowab.



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +