• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    KH. Turaichan Adjhuri: Ulama yang Menjaga Waktu Umat dari Kudus

    , 12.27 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia


    KH. Turaichan Adjhuri: Ulama yang Menjaga Waktu Umat dari Kudus
     KH. Turaichan Adjhuri: Ulama yang Menjaga Waktu Umat dari Kudus


    Wonosobo Media - Di banyak pesantren, ilmu falak sering dianggap rumit, penuh angka, hitungan langit, dan pergerakan benda-benda yang tak semua orang sanggup memahaminya. 


    Namun di Kudus, pernah lahir seorang ulama yang justru menjadikan langit terasa dekat dengan kehidupan umat. Namanya K.H. Turaichan Adjhuri, sosok yang akrab dikenal sebagai Mbah Tur.


    Lahir di Kudus pada 10 Maret 1915, Mbah Tur tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ayahnya adalah K.H. Adjhuri, sementara ibunya bernama Nyai Dewi Sukainah. 


    Dalam sejumlah riwayat, Mbah Turaichan juga disebut masih memiliki garis keturunan dengan ulama besar asal Pati, Syaikh Mutamakkin.


    Sejak muda, kecerdasannya sudah terlihat menonjol. Salah satu kebiasaan yang sering disebut adalah kegemarannya bermain catur. Bagi sebagian orang, catur mungkin hanya permainan biasa. 


    Tapi bagi Mbah Tur muda, papan catur menjadi latihan berpikir: menyusun strategi, membaca kemungkinan, sekaligus mengasah ketelitian angka yang kelak sangat berguna dalam dunia hisab dan falak.


    Pendidikan beliau banyak ditempuh di Kudus. Pada tahun 1928, Mbah Tur belajar di Madrasah TBS Kudus, salah satu lembaga pendidikan Islam berpengaruh di kota kretek tersebut. Di sana, ia berguru kepada sejumlah ulama kharismatik seperti K.H. R. Asnawi dan K.H. Ma’shum Ali.


    Bahkan membuat banyak orang kagum, kecerdasannya berkembang jauh melampaui usianya. Saat baru berumur sekitar 14 tahun, Mbah Tur sudah dipercaya mengajar ilmu faraidh dan ilmu falak. 


    Pada usia ketika banyak anak masih sibuk bermain, ia justru telah mengajarkan ilmu perhitungan waris dan astronomi Islam kepada orang lain.


    Nama Mbah Tur kemudian dikenal luas sebagai salah satu tokoh falak paling penting di Indonesia. Dedikasinya bukan hanya untuk pesantren atau masyarakat Kudus, tetapi juga untuk umat Islam secara luas melalui Nahdlatul Ulama. Beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kudus dan aktif di Lajnah Falakiyah PBNU.


    Salah satu warisan terbesarnya adalah Almanak Menara Kudus. Kalender ini bukan sekadar penanggalan biasa, melainkan hasil hisab dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Bahkan, perhitungan tersebut mampu memprediksi fenomena gerhana secara akurat.


    Ada hal lain yang lebih mencengangkan, Mbah Tur menyusun hitungan kalender hingga ratusan tahun ke depan. Dikisahkan, perhitungannya dibuat sampai sekitar 200 tahun mendatang dan hingga kini masih menjadi salah satu rujukan penting bagi umat Islam di Indonesia.


    Di titik ini, Mbah Tur sebenarnya bukan cuma ahli hitung. Ia seperti penjaga waktu umat. Lewat hitungan-hitungannya, masyarakat bisa menentukan awal bulan hijriah, waktu ibadah, hingga berbagai momentum penting dalam kalender Islam dengan penuh ketelitian.


    Mbah Tur wafat pada 20 Agustus 1999 dalam usia 84 tahun. Namun sebagaimana banyak ulama besar, kepergiannya tidak benar-benar membuat namanya hilang. Hingga hari ini, warisan intelektualnya masih hidup dalam hitungan falak yang terus dipakai lintas generasi.


    Barangkali memang begitulah cara seorang ulama bertahan melawan waktu, yaitu bukan lewat bangunan megah atau popularitas, namu melalui ilmu yang terus memberi arah bagi banyak orang.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +