• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Salat Id dengan View Gunung Sindoro dan Sumbing di Sontonayan Wonosobo, Khotbah Bahas Iman dan Algoritma

    , 14.24 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Viral! Salat Id dengan View Gunung Sindoro dan Sumbing di Sontonayan Wonosobo, Khotbah Bahas Iman dan Algoritma
    Salat Id dengan View Gunung Sindoro dan Sumbing di Sontonayan Wonosobo, Khotbah Bahas Iman dan Algoritma. (Istimewa).


    Wonosobo Media - Pagi itu di seluruh penjuru belahan dunia bagi umat Islam bahkan salah satunya di lereng Gunung Sindoro merasa suasana yang tidak seperti biasanya. 


    Sejak selepas subuh, orang-orang mulai sibuk mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat Id di lapangan Dusun Sontonayan, Desa Kapencar, Kecamatan Kertek, Wonosobo.


    Ya, mensyukuri hari raya Idul Adha 1447 H, lini jalan desa yang biasanya berlalu Lalang aktivitas berangkat kerja-sekolah terjeda sebab berubah mendadak ramai. 


    Warga datang membawa sajadah, mengenakan pakaian terbaik mereka, sementara kabut tipis khas pegunungan perlahan terbuka menampakkan gagahnya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.


    Berada di tempat inilah, salat Id bukan sekadar ibadah tahunan. Ada pengalaman lain yang ikut dirasakan, seperti suasana syahdu pedesaan, udara dingin pegunungan, serta pemandangan alam yang membuat banyak orang rela datang dari berbagai daerah.

    Sontonayan Wonosobo
    salat Id view Gunung Sindoro di Sontonayan, Kapencar Wonosobo.


    Meskipun bagi warga lokal sendiri hal semacam itu sudah lumrah dan dianggap biasa saja, namun tidak bagi sebagian orang yang baru tahu ada salat Id dengan suasana yang syahdu dan sejuk.


    Sebagaimana diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena menjalankan salat Id dengan latar pemandangan alam atau yang kerap disebut “salat Id with view” memang menjadi perhatian banyak orang. 


    Bahkan di media sosial, suasana salat Id di berbagai daerah sering viral dan menarik rasa penasaran masyarakat. Tidak sedikit yang ingin ikut merasakan bagaimana sensasi bertakbir di alam terbuka dengan latar pegunungan dan hamparan hijau khas Wonosobo.


    Begitu pula yang terjadi di Desa Garung Kalikajar. Lokasi ini kini semakin dikenal masyarakat luas. Apalagi sampai sekarang ini masih ramai didatangi warga dari berbagai wilayah Wonosobo dan sekitarnya untuk menjalankan salat Id sekaligus menikmati suasana khas kaki gunung.


    Tidak jauh dari spot salat Id yang viral itu, di Sontonayan, Kapencar, Kertek Wonosobo, bukan hanya pemandangannya yang menarik perhatian. Isi khutbah Idul Adha 1447 H di Sontonayan tahun ini juga terasa dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, terutama tentang hubungan Islam dan algoritma media sosial.


    Sebagaimana diungkapkan oleh salah satu warga Sontonayan, ia menceritakan bagaimana sang khotib menyinggung fenomena saat ini berbagai fadilah ibadah, ritual, hingga sunnah-sunnah amalan ibadah sangat mudah ditemukan di media sosial. 

    Salat Id with view
    Para warga berbondong-bondong antusias melaksanakan salat Id.

    Menyikapi apa yang disampaikan dalam khutbah tersebut, warga Sontonayan inisial Y menjelaskan bahwa urusan Islam, iman maupun algoritma ini tergantung bagaimana kita menyikapinya.


    Dalam bahasa yang sederhana dan dekat dengan masyarakat, khatib juga menyampaikan bahwa kondisi iman seseorang hari ini seolah ikut dipengaruhi algoritma yang setiap hari dilihat di media sosial.


    “Jadi terkadang pengaruhnya iman itu tergantung algoritmanya juga,” tulis Mas Y ketika diwawancarai Redaksi Wonosobo Media melalui pesan Whatsapp, Rabu (27/5) pagi. 


    Kalimat itu terasa sederhana, namun cukup menggambarkan realitas zaman sekarang, ketika seseorang lebih sering melihat konten positif, dakwah, atau pengingat ibadah, maka hati akan lebih mudah tergerak menuju kebaikan. 


    Sebaliknya, jika yang muncul setiap hari justru amarah, provokasi, dan hal-hal yang melalaikan, perlahan suasana hati dan cara berpikir pun ikut terbentuk.


    Berada di tengah udara dingin kaki Sindoro-Sumbing pagi itu, khutbah tersebut seperti menjadi pengingat dan diambil hikmahnya bahwa teknologi, media sosial, algoritma sebenarnya bukan musuh. 


    Media sosial juga bisa menjadi jalan kebaikan, tergantung bagaimana manusia mengarahkan dan memilih apa yang dikonsumsi setiap hari.


    Sebab pada akhirnya, bukan hanya algoritma yang menentukan arah hidup manusia, tetapi juga sejauh mana seseorang menjaga hatinya di tengah dunia yang terus bergerak cepat. 

    Lanjut dalam khotbah tersebut juga memberikan pesan sebagai hamba untuk senantiasa membumi, ojo dumeh, jangan merasa besar dari yang paling akbar Maha Besar). 


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +