• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Liburan ke Semarang dan Ritual Wajib Bernama Beli Oleh-Oleh

    , 13.52 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Liburan ke Semarang dan Ritual Wajib Bernama Beli Oleh-Oleh
    Liburan ke Semarang dan Ritual Wajib Bernama Beli Oleh-Oleh

    Wonosobo Media - Bagi sebagian orang, liburan ke Semarang belum sah kalau belum mampir ke toko oleh-oleh.


    Bukan karena lapar semata, tapi karena ada semacam kewajiban sosial: pulang harus bawa sesuatu. Minimal wingko, kalau niatnya serius ya bandeng presto satu dus.


    Itulah yang terlihat di Semarang belakangan ini. Usai berkeliling kota, wisatawan berbondong-bondong mengalir ke sentra oleh-oleh.


    Jalan Pandanaran, misalnya, berubah menjadi ruang temu paling jujur antara rasa rindu, dompet yang menipis, dan antrian panjang di depan etalase.


    Semarang seolah paham betul: orang boleh lupa rute jalan, tapi tidak akan lupa rasa.


    Ketika Makanan Menjadi Alasan Pulang


    Oleh-oleh khas Semarang bukan sekadar makanan. Ia adalah alasan pulang yang bisa dipertanggungjawabkan.


    Bandeng presto dibeli bukan cuma karena durinya lunak, tapi karena cocok dijadikan simbol perhatian untuk orang rumah, tentunya bikin makan nambah nasi terus.


    Lumpia dibungkus rapi, sebab rasanya dianggap “paling aman” untuk semua selera. Wingko babat dipilih karena nostalgia manis, sederhana, dan akrab.


    Menariknya, banyak wisatawan mengaku datang tanpa rencana besar. Hanya singgah sebentar, lalu mendadak keluar toko dengan kantong berlapis. 


    Seperti orang yang awalnya cuma mau lihat-lihat, tapi akhirnya sadar: pulang tanpa oleh-oleh lebih memalukan daripada pulang kehujanan.


    Pandanaran, Etalase Kota yang Sebenarnya


    Jika ingin memahami denyut ekonomi Semarang, lihatlah toko oleh-olehnya saat musim liburan. Di sanalah kota ini berbicara apa adanya.


    Penjual tak banyak basa-basi. Yang penting barang habis, senyum tetap dijaga, dan timbangan jangan salah. 


    Dalam sehari, rak bisa kosong beberapa kali. Bandeng datang, bandeng pergi. Lumpia digoreng, lumpia lenyap.


    Libur panjang bukan cuma soal wisata. Ia adalah musim panen bagi pelaku usaha kecil. 


    Dari dapur rumahan, pengemasan, hingga kasir toko semuanya bergerak. Semarang bekerja diam-diam, lewat aroma makanan yang menggoda.


    Lebih dari Buah Tangan, Ini Soal Cerita


    Yang dibawa pulang wisatawan sebenarnya bukan cuma makanan. Tapi cerita.


    Tentang kota yang ramah. Tentang rasa yang konsisten. Tentang Semarang yang tidak perlu berteriak keras untuk diingat cukup lewat satu gigitan lumpia atau sepotong wingko.


    Maka wajar jika oleh-oleh selalu dicari. Karena di dalamnya ada upaya kecil untuk membagi pengalaman: “Aku habis dari Semarang, dan ini rasanya.”


    Semarang, Kota yang Bisa Dibungkus


    Pada akhirnya, Semarang punya kelebihan yang jarang disadari kota lain: ia bisa dibungkus, dibawa pulang, dan dibagi.


    Tak semua kota bisa melakukan itu. Selama orang masih percaya bahwa rasa adalah cara paling jujur untuk bercerita, toko oleh-oleh Semarang akan terus ramai tak peduli musim liburan atau tidak.


    Karena bagi banyak orang, perjalanan memang berakhir di rumah. Tapi kenangan, seringkali, justru tinggal di lidah.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +