• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Penjelasan Bait Pembuka Kitab Riayatul Himmah Karya KH Ahmad Rifa’i

    , 22.16 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Penjelasan Bait Pembuka Kitab Riayatul Himmah Karya KH Ahmad Rifa’i
    Penjelasan Bait Pembuka Kitab Riayatul Himmah Karya KH Ahmad Rifa’i.


    Wonosobo Media - KH Ahmad Rifa’i bin Muhammad dikenal sebagai ulama yang memiliki metode khas dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. 


    Salah satu keunikan karya-karyanya terletak pada bahasa dan bentuk penulisannya. Dalam kitab-kitabnya beliau menggunakan bahasa Jawa dengan gaya yang mudah dipahami oleh masyarakat, terutama kalangan santri dan awam.


    Pada pengantar karyanya Riayatul Himah, KH Ahmad Rifa’i menggunakan istilah “miwiti”, yang berarti memulai. 


    Kata ini menandai awal penyusunan kitab sekaligus menjadi penjelasan tentang cara beliau menyampaikan ilmu kepada pembaca.


    Beliau juga menyebut metode penulisannya sebagai “tarajumahan”, yakni mengungkapkan ajaran Islam dengan bahasa Jawa sebagai bahasa lokal. 


    Selain itu, karya tersebut disusun dalam bentuk “nadhoman”, yaitu syair atau nazham yang berirama sehingga mudah diingat dan dihafalkan.


    Namun perlu dipahami bahwa kitab-kitab Tarajumah karya KH Ahmad Rifa’i bukan sekadar terjemahan langsung dari kitab-kitab berbahasa Arab. 


    Beliau tidak hanya menyalin atau menerjemahkan teks Arab ke dalam bahasa Jawa. 


    Sebaliknya, beliau mengolah berbagai literatur Arab, kemudian merangkumnya dan menuliskannya kembali dalam bahasa Jawa dengan bentuk syair.


    Metode ini menunjukkan keluasan ilmu beliau sekaligus kepiawaiannya dalam menjembatani ilmu-ilmu klasik Islam dengan masyarakat lokal.


    Hingga kini, para pembaca awam seperti penulis sendiri masih terus melacak sumber-sumber rujukan yang digunakan KH Ahmad Rifa’i. 


    Beberapa bagian memang dapat ditelusuri berasal dari kitab-kitab berbahasa Arab, meskipun baru sebagian kecil yang berhasil diidentifikasi secara jelas.


    Pembukaan Kitab dalam Bentuk Nadhom


    Dalam memulai penulisan kitabnya, KH Ahmad Rifa’i menuliskan bait nadhom berikut:


    "Miwiti hamba ing nadhom iki terjemahan,

    Serat nebut asma Allah murah kadunyan.

    Kang asih ing mukmin suwargo pinaringan,

    Besok teka akhirat langgeng kahuripan."


    Hamba memulai nadhom terjemahan ini,

    dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah di dunia.

    Kasih-Nya tercurah bagi kaum mukmin dengan anugerah surga,

    kelak di akhirat mereka hidup abadi dalam kebahagiaan.


    Kutipan di atas menjadi pembuka yang mengandung pujian kepada Allah sekaligus pengakuan bahwa segala pengetahuan berasal dari rahmat-Nya.


    Setelah pembukaan tersebut, KH Ahmad Rifa’i kemudian mengutip firman Allah dari Surat Al-A’raf ayat 43:


    Alhamdulillāhilladzī hadānā lihādzā wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh.


    Ayat lengkapnya berbunyi:


    Wa naza’nā mā fī ṣudūrihim min ghillin tajrī min taḥtihimul-anhār, wa qālul-ḥamdu lillāhillażī hadānā lihāżā wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh, laqad jā`at rusulu rabbinā bil-ḥaqq.

    Artinya:


    “Dan Kami cabut segala rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami menuju (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk.’”


    Ayat ini menegaskan bahwa hidayah dan pengetahuan pada hakikatnya adalah anugerah Allah semata.


    Makna Nama Allah: Ar-Rahman dan Ar-Rahim


    Lewat penjelasannya, KH Ahmad Rifa’i juga menguraikan makna beberapa nama Allah.


    Allah adalah nama bagi Dzat yang wajibul wujud, Maha Hidup, Maha Sempurna, Maha Pencipta, Maha Mengawasi, serta lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya.


    Adapun Ar-Rahman berarti kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk di dunia. Rahmat ini mencakup orang mukmin maupun kafir, orang taat maupun ahli maksiat, serta seluruh makhluk ciptaan-Nya.


    Sementara Ar-Rahim menunjukkan kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang mukmin, terutama di akhirat kelak dengan balasan berupa surga.


    Kedua nama tersebut termasuk dalam Asma’ul Husna. Karena itu, lafal Ar-Rahman dan Ar-Rahim tidak digunakan secara langsung sebagai nama manusia, kecuali dengan tambahan kata “Abdu” (hamba) di depannya, seperti Abdurrahman atau Abdurrahim.


    Memulai dengan Basmalah


    Sebagaimana tradisi para ulama, KH Ahmad Rifa’i juga memulai penulisan kitabnya dengan basmalah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tafa’ulan, yakni mengambil keberkahan dari Al-Qur’an yang juga diawali dengan basmalah.


    Dengan memulai karyanya dengan menyebut nama Allah, KH Ahmad Rifa'i menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak terlepas dari nilai spiritual. 


    Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Hal seperti ini memang senantiasa redaksi Wonosobo Media tegaskan terus menerus bahwa penting adanya.


    Warisan berupa karya dari KH Ahmad Rifa'i ini atau ulama Nusantara lainnya perlu kita gali dan pelajari kembali agar menjadi pijakan untuk mengarungi arah zaman.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +