• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Shalawat dalam Kitab Ri’ayah al-Himmah: Pintu Pembuka Ajaran KH. Ahmad Rifa’i

    , 19.16 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Shalawat dalam Kitab Ri’ayah al-Himmah: Pintu Pembuka Ajaran Kiai Ahmad Rifa’i.



    Wonosobo Media - Kitab Ri’ayah al-Himmah karya KH Ahmad Rifa’i ibn Muhammad merupakan salah satu karya penting dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara. 


    Kitab ini tidak hanya membahas satu cabang ilmu saja, tetapi merangkum pokok-pokok ajaran Islam secara menyeluruh, mulai dari ushul (pokok-pokok akidah), fikih, hingga tasawuf.


    Sebagai seorang ulama sekaligus pejuang pada zamannya, KH Ahmad Rifa’i dikenal memiliki metode dakwah yang khas. Banyak karya beliau ditulis dalam bentuk nazham (syair).


    Pilihan bentuk ini bukan tanpa alasan. Dengan format syair, ajaran-ajaran agama menjadi lebih mudah diingat, dihafal, dan dipahami, terutama oleh para santri maupun masyarakat awam yang belajar agama secara tradisional.


    Melalui kajian jaburan lanjutan edisi 15 ini, redaksi Wonosobo Media mencoba menguraikan bagian pembuka dari kitab Ri’ayah al-Himmah, yaitu membahas perihal shalawat


    Penjelasan ini diharapkan dapat membantu para pengajar yang tengah mengajarkan maqsud, serta siapa pun yang ingin menelusuri pemikiran KH Ahmad Rifa’i melalui karya-karyanya.


    Lewat penjelasan ini pula, pembaca diharapkan tidak sekadar membaca bait-bait nadham secara tekstual belaka.


    Tetapi nantinya juga mampu menyelami makna yang tersimpan di balik setiap baitnya, sekaligus merasakan nilai spiritual yang diwariskan oleh sang ulama.


    Makna Shalawat


    Dalam tradisi keilmuan Islam, shalawat memiliki makna yang berbeda-beda tergantung dari siapa ia datang.


    Pertama, shalawat dari Allah dimaknai sebagai “al-rahmah al-maqrunah bit-ta’dhim”, yaitu kasih sayang Allah yang disertai dengan kemuliaan bagi Nabi Muhammad Saw.


    Adapun shalawat dari malaikat berarti “al-istighfar”, yaitu memohonkan ampunan kepada Allah bagi Nabi.


    Sementara shalawat dari makhluk, termasuk kita sebagai ummat Kanjeng Nabi Muhammad, dimaknai sebagai “ad-du’a”, yaitu doa yang dipanjatkan kepada Nabi Muhammad Saw. Serta sebagai bagian dari perantara dan ungkapan katresnan kepada beliau.


    Selain shalawat, terdapat pula kata salam yang sering disandingkan dengannya. Salam berarti keselamatan, kesehatan lahir dan batin (‘afiyah), serta terbebas dari berbagai beban dan kesulitan, baik yang berkaitan dengan kebaikan maupun keburukan.


    Mengapa Shalawat Menjadi Pembuka?


    KH Ahmad Rifa’i mencantumkan shalawat di awal kitabnya bukan sekadar tradisi penulisan keilmuan.


    Lebih dari itu, shalawat merupakan bentuk memohon berkah kepada junjungan Nabi Muhammad Saw.


    Di samping itu, shalawat juga merupakan perintah langsung dari Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:

     إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”


    Dengan menempatkan shalawat di bagian pembuka, KH Ahmad Rifa’i seakan mengingatkan bahwa setiap perjalanan ilmu seharusnya dimulai dengan menghormati Nabi, memohon berkah, serta menautkan hati kepada sumber teladan umat Islam.


    Di situlah beberapa hal yang bisa kita gali dari letak kedalaman pesan kitab Ri’ayah al-Himmah ini.


    Sebab sebuah keilmuan sendiri bukan sekadar pengetahuan, melainkan juga suluk atau jalan spiritual yang menghubungkan manusia dengan Nabi dan dengan Allah. Wallahu a'lam bishowab.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +