![]() |
Wirid Padang Bulan di Makam Tua Wonosobo: Perjalanan Ziarah, Manuskrip, dan Doa Sederhana |
Wonosobo Media - Ada perjalanan yang memang direncanakan atau pula perjalanan yang seperti panggilan dalam hati. Siang itu langit di Wonosobo tampak cerah sejak pagi hari, meski selepas dhuhur tiba berubah menjadi mendung.
Meski begitu bukan menjadi sebab masalah ketika menjajaki di sebuah wilayah yang menjadi tempat dakwah dari salah satu jaringan murid KH. Ahmad Rifai.
Tepatnya di Pagude, Pagerkukuh, Wonosobo, sebagaimana dijelaskan pada sebuah catatan buku kumpulan kegiatan penerus Syekh Ahmad Rifa’I yang menjelaskan persebaran dakwah di beberapa daerah di Wonosobo beserta runtutan ikatan dari satu guru ke murid dan lainnya.
Awalnya, perjalanan ini bukan untuk ziarah, saya hanya berniat bersilaturahmi sekaligus mencari jejak manuskrip kitab karya KH Ahmad Rifa'i yang kabarnya masih tersimpan di wilayah Pagude ini.
Sebuah perjalanan kecil untuk menelusuri sejarah, bertanya ke salah satu kawan yang ternyata memiliki ikatan dengan salah satu garis keturunan Mbah Abdullah Siraj yang dalam sumber yang sama di atas menjadi seorang yang berdakwah di Pagude.
Mendengar cerita dari sang kawan ini juga sanak keluarganya, berbasa-basi tentang kegiatan sehari-hari, sampai pada menanyakan makam dari Mbah Abdullah Siraj sendiri. Lain lagi tentu peninggalan berupa manuskrip kitab yang ternyata memiliki kisah dibaliknya.
Menurut penuturan salah satu keturunan dari Mbah Abdullah Siraj sendiri, kajian kitab dari karya Mbah Ahmad Rifai sendiri sampai sekarang ini masih dikaji setiap minggunya.
Ada jadwal tersendiri dari warga sekitar Pagude maupun jadwal ngaji rutinan setiap malam Minggu oleh keluarga besar Mbah Abdullah Siraj.
Mendengar kabar ini saya pun merasa gembira, masih ada harapan dan hal menarik dari menjaga ikatan batin dengan sang maha guru, kisah lain dibaliknya juga menarik didengarkan dan diulas yang terkadang lebih kaya daripada arsip tertulis.
Di sela obrolan dan penelusuran itu, langkah justru diperjalankan menuju sebuah makam tua yang masih satu wilayah dengan makam Mbah Abdullah Siraj tersebut. Makam ini sedikit menaiki anak tangga di atas gundukan seperti bukit kecil, katakanlah.
Kala itu tidak ramai peziarah, hanya saya sendiri. Duduk bersimpuh di bawah cungkup semi joglo sederhana yang berdiri tenang, berada di bagian tengahnya terdapat pusara sang sahibul makam.
Suasana yang sunyi dan sepi, sesekali terdengar suara kendaraan namun lebih dominan kicau burung maupun sapuan angin yang meniup dedaunan di sekitar makam sepuh ini, sehingga bisa dibilang agak nggaya; suasana seperti itu selalu membuat orang lebih mudah diam.
Biasanya, orang datang ke makam membawa banyak permintaan. Tetapi ada makam-makam tertentu yang justru membuat seseorang ingin menurunkan suara hati dan mendengarkan dirinya sendiri.
Tahlil mulai dilangitkan, kalimah thayyibah mengalun perlahan, menyatu dengan suara angin dan aroma mendung yang belum selesai. Setelah itu, tanpa disadari teringat sebuah wirid yang cukup akrab bagi sebagian orang, sebuah wirid yang oleh sebagian orang disebut sebagai Wirid Padhang Bulan.
Ya Allahu Ya Mannan Ya Karim
Ya Allahu Ya Rohman Ya Rohim
Ya Allahu Ya Fattah Ya Karim
Ya Allahu Ya Rohman Ya Rohim
Lafal itu dilantunkan berulang-ulang dengan nada yang pelan, sederhana, namun justru terasa dalam dan tidak dibuat dramatis, janya suara lirih yang menggema di bawah cungkup makam sebagai selingan dari selawat “mawla ya sholli..”
Merapalkan pelan sebagai bagian dari luapan harapan kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pemberi Anugerah, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pembuka segala jalan keluar.
Wirid ini pun saya refleksikan bagian dari bentuk kepasrahan dan pengharapan agar Tuhan senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya dan membuka pintu kemudahan dalam segala urusan.
Ketika menuliskan perjalann ini, saya jadi teringat ragam peristiwa atau kisah di akar rumput, soal ketulusan.
Bahwa orang-orang di sekitaran kita ketika menjaga hubungan dengan Tuhannya dilontarkan sederhana tidak banyak teori, tidak banyak penjelasan, cukup wirid yang diucapkan perlahan tapi istiqamah.
Soal pelafazan terkadang ada yang tidak sesuai dengan aturan baku tajwid atau istilah lainnya namun soal ketulusan dan olah rasa kepasrahan ini yang tidak dapat kita ukur dengan mata atau telinga sekilas.
Di momen seperti itu, saya kadang merasa ziarah bukan sekadar mendatangi makam orang yang telah wafat.
Ziarah juga menjadi cara untuk menengok usia diri sendiri. Sebab di hadapan pusara, semua kesibukan dunia terasa mengecil dengan sendirinya.
Bisa dibilang ini adalah fadhilah, anugerah dari Tuhan bisa diperjalankan dalam sebuah perjalanan yang ternyata secara subyektif diri ini istimewa.
Dari niat awal mencari data manuskrip kitab, lalu dipertemukan dengan suasana makam, wirid, meski diselingi suasana mendung namun tetap syahdu.
Seolah ada pesan kecil bahwa sejarah tidak sekadar digali dari sebuah lembaran kitab tua, tetapi juga dalam tradisi lisan, doa-doa sederhana, dan langkah para peziarah. Barangkali benar, tidak semua perjalanan spiritual datang dengan tanda-tanda besar.
Terkadang sebuah makna hikmah ini bisa hadir lewat suasana menuju sore yang mendung, makam tua di sudut kampung, dan wirid sederhana yang dilantunkan pelan. Lalu tanpa sadar, hati yang semula penuh riuh menjadi sedikit lebih teduh. Wallahu a’lam bishowab.

.jpg)