GWSM: Ketika Seni Tradisi Menolak Tua dan Memilih Viral
Wonosobo Media - Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi joget cepat, potongan podcast, dan tren yang datang-pergi, tiba-tiba muncul satu nama yang bikin banyak orang bertanya-tanya: GWSM.
Bukan jargon kosong, bukan pula istilah lucu buatan netizen. Di balik empat huruf itu, ada denyut seni tradisi yang sedang menemukan napas barunya.
GWSM adalah singkatan dari Garuda Wisnu Satria Muda, sebuah kelompok seni pertunjukan yang lahir dari semangat anak-anak muda desa di Magelang, Jawa Tengah.
GWSM ini tidak datang dari ruang akademik seni yang mapan, tapi dari keresahan sederhana: kalau bukan kita yang merawat budaya, siapa lagi?
Lahir dari Desa, Bergerak dengan Ide
Didirikan pada Agustus 2016 di Dusun Pakeron, Tempuran, Magelang, GWSM tumbuh sebagai ruang berkumpul sekaligus ruang belajar.
Mereka mengolah seni pertunjukan tradisional, tari, musik, dan dramatika yang berakar pada kisah-kisah pewayangan Jawa.
Cerita Pandawa dan Kurawa, Bharatayudha, hingga konflik batin para ksatria tidak hanya dipentaskan sebagai tontonan, tapi juga sebagai cermin kehidupan: tentang kuasa, kesetiaan, pengkhianatan, dan keberanian memilih jalan yang benar.
Di tangan GWSM, wayang tidak lagi terasa jauh atau kuno. Ia bergerak, menghentak, dan berbicara dengan bahasa tubuh yang tegas.
Tradisi yang Tidak Takut Kamera
GWSM ini agak berbeda dari grup kesenian lainnya sebab memiliki keberanian mereka berdamai dengan zaman.
Ketika banyak kesenian tradisional berhenti di panggung hajatan atau ritual desa, GWSM justru melangkah ke ruang digital.
Video-video pementasan mereka beredar luas di TikTok dan YouTube. Ditonton ratusan ribu, bahkan jutaan kali. Anak-anak muda yang mungkin tak pernah menonton wayang semalam suntuk, kini mengenal kisah-kisah klasik lewat potongan video berdurasi singkat.
Ini bukan soal viral semata. Ini tentang strategi bertahan hidup seni tradisi di tengah algoritma.
Lebih dari Hiburan
Menonton GWSM bukan sekadar soal visual yang megah atau iringan gamelan yang menghentak. Di balik setiap gerak dan kostum, ada nilai yang diselipkan: disiplin, kerja kolektif, penghormatan pada tradisi, dan keberanian menjaga identitas.
Di saat banyak anak muda mencari jati diri lewat budaya luar, GWSM menunjukkan bahwa akar lokal juga bisa menjadi sumber kebanggaan—bahkan daya saing.
Mengapa GWSM Penting Hari Ini
GWSM membuktikan satu hal penting:
bahwa budaya tidak harus membeku agar disebut “asli”. Ia boleh bergerak, menyesuaikan diri, bahkan bernegosiasi dengan teknologi asal tidak kehilangan ruhnya.
GWSM ini hadir menjadi contoh bahwa seni tradisi tidak mati, hanya menunggu ruang dan cara baru untuk didengar.
GWSM bukan sekadar singkatan, apalagi tren sesaat. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap lupa. Sebuah upaya anak muda desa yang memilih untuk menjaga warisan, sambil menatap masa depan.
Di era serba cepat, GWSM mengingatkan kita: tidak semua yang lama harus ditinggalkan, dan tidak semua yang baru harus ditelan mentah-mentah.

