• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Tren Sarapan Estetik di Savana Bromo, Sensasi Kuliner Pagi di Alam Terbuka

    , 14.04 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Tren Sarapan Estetik di Savana Bromo, Sensasi Kuliner Pagi di Alam Terbuka
    Tren Sarapan Estetik di Savana Bromo, Sensasi Kuliner Pagi di Alam Terbuka.

    Wonosobo Media - Terdapat di tengah hiruk-pikuk tren wisata modern, sarapan pagi kini tak lagi sekadar urusan perut. Tetapi juga menjelma jadi pengalaman yang berkesan.


    Belakangan, jagat media sosial diramaikan oleh potret-potret sarapan estetik berlatar alam terbuka mulai dari Savana Bukit Teletubbies hingga hamparan Gunung Bromo yang megah. 


    Tentunya dalam hal ini bukan hanya soal menu, melainkan soal suasana yang menyertainya.


    Di kawasan Savana Bromo, sarapan berubah menjadi ritual kecil yang terasa istimewa. Tikar digelar di atas rumput, kompor portabel menyala, uap makanan panas mengepul di udara pegunungan yang dingin. 


    Panorama alam menjadi meja makan, dan langit pagi menjadi atapnya.


    Sebagaimana dilakukan oleh Agus Limbang Wardhani (42), warga Kota Kediri, Jawa Timur, merasakan sendiri sensasi tersebut saat menghabiskan sisa liburan akhir tahun bersama keluarganya. 


    “Libur hampir selesai dan ini momen yang pas untuk menikmati Bromo bareng keluarga. Kalau sarapan di restoran itu sudah biasa. Tapi sarapan pagi di alam terbuka, masakan masih panas karena dimasak langsung di atas kompor, itu rasanya beda,” ujarnya, Sabtu (3/1/2025).


    Bagi Dhani sapaan akrabnya, tren sarapan di Savana Bromo bukan sekadar ikut-ikutan media sosial. 


    Lebih dari itu, ia menjawab rasa penasaran anak-anaknya yang sejak lama melihat keseruan tersebut di berbagai platform digital. 


    “Anak-anak sudah lama kepingin. Mereka lihat di medsos. Tanpa harus menginap, Alhamdulillah tetap bisa merasakan wisata kuliner di Bromo,” katanya.


    Libur akhir tahun yang berbarengan dengan libur sekolah membuat kawasan wisata Gunung Bromo dipadati pengunjung. 


    Namun, alih-alih sekadar berfoto, banyak wisatawan kini mencari pengalaman yang lebih personal dan berkesan. 


    Aktivitas glamping, piknik keluarga, hingga sarapan di alam terbuka menjadi pilihan populer.


    Bukan tanpa alasan. Wisata alam pegunungan menawarkan kombinasi yang sulit ditolak: biaya relatif terjangkau, udara sejuk, pemandangan hijau yang menenangkan, serta jarak dari rutinitas harian yang melelahkan. 


    Bagi sebagian orang, inilah cara sederhana untuk memulihkan energi sebelum kembali pada kesibukan.


    Menariknya, pengalaman tersebut justru memantik refleksi Dhani tentang potensi wisata di daerahnya sendiri. 


    Ia menilai Kediri memiliki kekayaan alam yang tak kalah memesona. “Sebenarnya Kediri juga punya banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan. View Gunung Kelud itu keren, tidak kalah dengan Bromo,” ujarnya.


    Ia berharap, ke depan, pengelolaan dan pemeliharaan objek wisata di Kota maupun Kabupaten Kediri dapat lebih optimal. 


    Penambahan fasilitas serta sentuhan kreatif diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan bukan hanya untuk datang, tetapi juga untuk tinggal lebih lama dan membawa pulang cerita.


    Tren sarapan estetik di alam terbuka mungkin akan terus berganti bentuk. Namun satu hal tampaknya tetap sama: wisatawan kini tak lagi sekadar mencari tempat, melainkan pengalaman. 


    Berada di sanalah alam, dengan segala kesederhanaannya, selalu punya cara untuk memikat.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +