![]() |
| Mbah Muntaha dan Waktu yang Tak Pernah Kosong |
Wonosobo Media - Dikisahkan oleh santri Mbah Muntaha sendiri, di matanya Mbah Mun tidak ada duanya, tidak ada yang lain.
Mbah Muntaha itu waktunya tidak ada yang mubadzir atau waktu kosong, semua halnya dilakukan untuk hal yang bermanfaat.
Ia merunut aktivitas dari Mbah Muntaha yang menjadi rutinitas sehari-hari mulai dari bangun jam 1 malam.
Lalu tampak mengambil air wudhu kadang mandi, sholat, wiridan, nanti manjing subuh sebelum subuh sudah sholat lagi, baru tindak ke masjid dan ngimami sholat subuh.
Ketika mengimami sholat Mbah Mun konsisten dengan bacaan Al-Quran dari awal, setahun khatam, dimulai dengan satu Syawal dan khatam pada akhir Ramadan.
Kemudian mengajar warga sekitar di masjid ngaji tafsir, batu mengaji para santri, santri putri dulu baru putra atau sebaliknya, selesai jam setengah 7 atau jam 6, istirahat sebentar lanjut mandi, wudhu solat dhuha.
Lanjut mengajar putra jam 7-8 sebelumnya sarapan atau selepas mengajar. Baru nderes Al-Qur'an lagi dan satu minggu nderesnya mbah Mun khatam.
Meski ada jadwal tindakan, meski ada tamu, Mbah Muntaha tetep ada waktu untuk nderes, jatah hari itu harus selesai nderesnya.
Masih menurut santri Mbah Muntaha, sempat niteni juga, jika tamu sedari subuh sudah ada, maka sampai jam 11 malam banyak tamu.
Sementara ketika sedari subuh tamunya jarang pun sampai malam juga jarang. Entah ini sebuah kebetulan atau ada hal yang unik.
Memungkasi tulisan ini, dari kebiasaan yang dilakukan oleh Mbah Muntaha bisa menjadi pemantik dan sebuah keteladanan yang tidak sekadar omongan belaka tetapi sudah dilakukan olehnya istiqomah sampai bertahun-tahun.
Terdapat dawuh dari Mbah Muntaha sendiri perihal ngaji ini bisa menjadi refleksi diri kita, yang redaksinya seperti ini, "hiyo yo bocah seng ora karep ngaji dioyak-oyak kon ngaji, mosok seng pengen ngaji pengen luru ngelmu malah ora ditompo.
Nah hal menjadi catatan bahwa tidak ada yang ditolak untuk mengaji, semua santri ditampung dan diemong oleh Mbah Muntaha Al-Hafidz.

