![]() |
| Kitab ‘Aisy al-Bahr: Karya Ulama Nusantara tentang Hewan Laut dalam Khazanah Islam. |
Wonosobo Media - Disebutkan di sebuah wilayah masih bagian dari Batang terdapat sebuah karya dan jejak intelektualitas dari seorang kiai yang bisa kita kaji dan ambil hikmahnya.
Meskipun hanya baru dikenal dengan satu karyanya, ia layak disebut sebagai bagian dari tokoh abad 19 dan awal abad
20 Masehi.
Kiai Anwar Batang yang memiliki pengaruh dalam konstelasi keulamaan di kalangan masyarakat Islam Nusantara khususnya Jawa dan lebih spesifik Jawa bagian utara.
Tertuang dalam beberapa jurnal, penelitian hingga kisah tutur yang berkembang khususnya di Kabupaten Batang, Kiai Anwar ini memiliki jejak peninggalan berupa kitab yang diberi nama ‘Aisyul Bahr.
Tradisi keulamaan Nusantara ditandai dengan unsur lokalitas yang menjadi ciri khas dalam karya-karya mereka. Selain penggunaan bahasa lokal, situasi masyarakat juga tidak lepas untuk direspon.
Kajian seputar karya ulama Nusantara telah dilakukan oleh beberapa peneliti, termasuk pertautannya dengan budaya lokal.
Kitab ‘Aisy al-Bahr termasuk karya keulamaan yang cukup unik karena temanya spesifik tentang hewan laut.
Karya yang fokus pada bidang ini, jarang dijumpai dalam khazanah keulamaan Nusantara selama ini, bahkan sangat jarang ditemukan dalam tradisi intelektual Islam secara umum.
Ulama yang pernah menulis seputar tema ini adalah Ibn Mūsā al-Damīrī (w. 808 H). dengan judul Ḥayāh al-Ḥayawān al-Kubrā.
Kitab ‘Aisy al-Bahr adalah bagian dari peneguhan terhadap tradisi intelektualisme Islam di Nusantara yang cukup kental dengan tradisi bermazhab Syafi’iyah.
Selain itu juga bagian dari keluasan ilmu sang penulis yang dibuktikan dengan berbagai rujukan para ulama salaf.
Bahkan menegaskan bahwa kitab karya Kiai Anwar Batang ini ditulis berdasarkan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Karya Kiai Muhammad Anwar berupa Kitab ‘Aisy al-Bahr ini berjudul lengkap ‘Aisy al-Bahr fī Bayān al-Ḥayawān al-Lażī lā Ya’īsy illā fī al-Bahr wa al-Lażī Ya’īsy fī al-Barr wa al-Bahr.
Tertuang perihal penulisannya itu rampung pada malam Ahad tanggal 24 bulan Shafar tahun 1339 Hijriyah.Atau bisa diperkirakan sekitar tahun 1918 Masehi.
Pada bagian sampul kitab tertulis bahwa topik di dalamnya menjelaskan tentang hewan yang hanya bisa hidup di laut dan hewan yang bisa hidup di laut dan di darat.
Melaui uraiannya yang sangat detail, Kiai Anwar tampak sangat paham dengan kehidupan hewan laut atau yang biasa hidup di sekitar laut atau air. Kedekatannya dengan dunia laut sangat dimungkinkan kalau ia adalah ulama sekaligus seorang nelayan.
Meskipun biografi Kiai Muhammad Anwar sampai saat ini belum ada yang membahas secara lengkap dan mengkaji lebih mendalam. Namun melalui beberapa informasi menuturkan perjalanan hidup tokoh dari Batang Jawa Tengah tersebut.
Sebagaimana pernah dikisahkan oleh Mbah Dimyati Rois, bahwa Kiai Anwar ini satu masa dengan Kiai Nawawi Banten dan Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Dim menuturkan, Kiai Anwar pernah melakukan pertemuan bersama para kiai terkenal di Alas Roban Grinsing Batang Jawa Tengah. Wallahu alam bishowab.

.jpg)