![]() |
| Ziarah 16 Syawal dan Sekilas Pembacaan Surat Wasiat KH Ahmad Rifa’i dari Ambon/(foto: istimewa). |
Wonosobo Media - Sebelum bulan puasa Ramadan kemarin usai, mendapat kabar dari seorang kawan yaitu sebuah data baru bagi penulis terkait dengan KH Ahmad Rifa'i.
Tambahan data baru ini tentu menjadi sumber yang menarik dan merasa bersyukur dengan adanya saling mengisi kekosongan, mengisi sebuah catatan yang tepat ibarat puzzle ya mengisi lubang gambar yang bisa menjadi gambar yang utuh dan jadi sumber pengetahuan.
Data ini baru dikirim kemarin, Rabu (8/4) sore, menurut seorang kawan yang mengirimi kutipan surat kepada penulis berasal dari sebuah arsip di suatu daerah.
Ia mengatakan bahwa ada sebuah catatan dari KH Ahmad Rifa'i yang isinya adalah surat wasiat kepada menantunya yang bernama Kiai Maufura dan untuk para muridnya.
Disebutkan pula nama muridnya dalam surat tersebut adalah KH Hasan Dimeja bin abu Hasan yang berada di Desa Bojong Dukuh Tangkilan Kepil.
Meski belum seutuhnya penulis baca, tetapi setiap kali membaca kutipan surat tersebut, seakan dibawa ke ruang waktu dan suasana haru pada saat itu.
Suasana haru ini mungkin agak teatrikal, apalagi jika ditambahi mata bakal berkaca-kaca setiap kali membaca satu dua kalimat tulisan tersebut. Namun memang demikian, bagaimana seorang guru, seorang bapak yang dicinta jauh secara lahiriah.
Lewat surat tersebut pada momentum Syawal, beliau menuliskan semoga kita dijadikan oleh Allah orang yang beruntung dan kembali suci serta bagian dari orang-orang yang Sholeh (min ngibadi-sholihin).
Meski jarak terlentang jauh antara Ambon dan Jawa doa senantiasa dihaturkan, menyambung sebuah ikatan batin yang kuat dengan satu tujuan yaitu dakwah atas nama panji-panji Tuhan dan perjuangan melawan penjajah.
Asam-garam, banyak fitnah, kendala yang menyertai dalam perjuangan itu sendiri lumrah halnya. Luapan rasa syukur senantiasa menyelingi diantara harapan-harapan.
Catatan ini, penulis baru mendapati 2 halaman saja, kayaknya masih ada halaman berikutnya dari sebuah surat wasiat dari KH Ahmad Rifa'i untuk murid-muridnya.
Hanya saja penulis sendiri pun merasa bersyukur, ibarat "tumbu ketemu tutup" pada momentum Syawal kali ini, terlebih selepas ikut serta napak tilas kemarin dengan ziarah murid-murid KH Ahmad Rifa'i di beberapa titik di Wonosobo mendapat pengalaman, cerita dan hikmah dibaliknya.
Apalagi pada tanggal 16 Syawal yang senantiasa konsisten dilaksanakan ziarah ke masyayikh di Wonosobo sebagai nyambung kepada murid-murid KH Ahmad Rifa'i ini bukan sekadar ambil tanggal sekenanya, tapi bagian dari mengingat bahwa pada tanggal tersebut menjadi peristiwa yang haru, KH Ahmad Rifa'i diasingkan ke Ambon.
Meskipun jarak antara Jawa hingga Ambon, sampai pada makam beliau di Tondano, paling tidak dengan perantara murid-murid beliau ini seakan menjadi lambaran "nyicipi" ziarah di makam KH Ahmad Rifa'i, pun juga doa tawasul bersahutan, bersambung seperti mata rantai bergantian dari ribuan jamaah warga yang berziarah di seluruh titik wilayah yang diziarahi tanpa putus pada 16 Syawal.
Sehingga memungkasi tulisan ini tidak berhenti untuk bersyukur dan penuh harap semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan para Masyayikh, lewat karya salinan kitab dari gurunya, KH Ahmad Rifa'i atau melalui kisah teladan yang telah ditularkan dan diceritakan turun-temurun sampai sekarang. Wallahu a'lam bishowab.
Tulisan terkait: Ziarah 16 Syawal: Napak Tilas Jaringan Murid KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo

