• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Perjuangan Mbah Muntaha: Menanam Pendidikan, Memanen Kemaslahatan Umat

    , 16.41 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Berada di maqbaroh Mbah Asy'ari di Dero Duwur, Mojotengah Wonosobo.(Foto:arsip Arpusda Wonosobo).
    Berada di maqbaroh Mbah Asy'ari di Dero Duwur, Mojotengah Wonosobo.(Foto:arsip Arpusda Wonosobo).

    Wonosobo Media - Bentuk perjuangan Khidmah atau pengabdian dari Mbah Muntaha sampai akhir hayatnya beliau senantiasa dedikasikan untuk kemaslahatan ummat. 


    Salah satu bagian yang dipikirkan oleh Mbah Mun yaitu terkait dengan pendidikan di Kalibeber hingga Wonosobo tentunya.


    Terdapat ungkapan yang menarik dan begitu tawadhu’ dari Mbah Muntaha yaitu, “aku tak blepot lendute, ning seng mangan welute hudu aku..”


    Pesane Mbah Muntaha itu memang bikin merinding dan haru jika dibayangkan perkembangan Pendidikan di Wonosobo khususnya Kalibeber sendiri yang pesat.


    Aspek roda ekonomi pun tampak meningkat, jalanan menjadi ramai silih berganti orang berbondong entah sekolah dari tingkat TK hingga SMA bahkan kuliah. 


    Apalagi tampak sekarang ini semakin berkembang hiruk pikuk para santri ketika pagi maupun sampai sore.


     Tampak ada yang berangkat kuliah hingga pulang sekolah sembari mampir di spot jajanan sekitar pesantren. Itu yang tampak oleh kasat mata. 


    Lain halnya bentuk perjuangan yang oleh para santri dikenang dan dilanjutkan melalui mimbar-mimbar, ngaji dampar atau dalam bentuk pergerakan yang merasuk pada lembaga atau organisasi.


    Nilai-nilai kebaikan dari Mbah Muntaha senantiasa dipegang dan menjadi pedoman ketika tandang di masyarakat.


    Sementara itu, ada hal lain lagi Perjuangan dan keteladanan yang dilakukan oleh Mbah Muntaha di berbagai aspek.


    Sehingga perjuangan semacam ini dari para santri-santri Mbah Muntaha sendiri meninggalkan kenangan yang berkesan dan boleh jadi bikin “mrebes mili” haru.


    Anggap saja sebegitu visioner pemikiran Mbah Mun untuk aspek pendidikan yang telah dipersiapkan matang sejak dahulu.


    Hal ini dapat dimaknai sebagai perjuangan pahit getir dilakukan KH. Muntaha untuk kemaslahatan dan kebaikan ummat tinggal menikmati keindahan dan manisnya perjuangan dari mbah Muntaha. 


    Seperti diceritakan oleh salah satu santri Mbah Muntaha, Mbah Aziz menuturkan pada tahun 1955 Mbah Mun menjadi anggota konstituante, mbah Aziz sejak kecil juga bermukim di ndalem Mbah Muntaha dengan mbah Mustahal. 


    Mbah Aziz didawuhi jadi katib pada peristiwa sidang ulama Jawa Madura. Bahkan ada cerita unik menyertai sidang ulama tersebut, yaitu meski sudah merdeka pada tahun itu masih ada kiai yang masih belum sadar kalau sudah merdeka.


    Ungkapan Mbah Aziz melalui kisahnya, mungkin ini adalah bagian dari "saking umpete" para kiai gerilya ketika melawan penjajah.


    Rangkaian acara sidang ulama Jawa Madura ini dilambari dengan bacaan tahlil qosor, ayat kursi, alhakumut, surat Al Ikhlas 5 kali disambung Surat Al Falaq bin nass, fatihah. Istighfar lailaha illa allah sekilas kisah dari kumpulan kiai ulama Jawa Madura. 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +