• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Fenomena Pembacaan Makam Lewat Metode Spiritual dalam Sejarah

    , 15.49 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Ilustrasi makam di daerah Jawa Tengah.




    WonosoboMedia - Kita seringkali dibuat bingung ketika memandang salah satu makam atau pasarean dari salah satu tokoh dengan berbagai sudut pandang. 


    Ketika masih memiliki sudut pandang dengan ragam data dan historiografi masih masuk akal memang asyik untuk dikejar dan digali keilmuannya.


    Namun, ketika sudut pandang yang disodorkan adalah sebuah terawangan, dengan mata batin hingga menerka-nerka siapa yang tahu kebenaran, soalnya ukurannya subyektif sesuai penerawangan salah seorang saja.


    Sekarang ini mulai muncul lagi, mungkin pada era sebelumnya tetap ada, fenomena orang-orang yang punya kemampuan secara gaib bisa mendeteksi sebuah peristiwa di masa lalu.


     Hingga bisa menentukan mulai dari peristiwa, hingga makam seseorang. 


    Namun, agaknya bagi kita yang masih menggunakan nalar berpikir logis atau sampai pada ranah sebagai seorang akademisi ini sebuah hal layak dikaji dan teliti.


    Meskipun nantinya bakal dibantah dengan ungkapan, "ya tunggu waktunya dibuka", atau kamu belum sampai tingkatannya", atau "jangan meremehkan ini ketua bla Bla bla sedunia lho.." 


    Tetapi perlu kita pikiran kembali sebagai tanggung jawab sosial sebagai seorang peneliti dan ilmuwan yang berbicara dengan data, kajian.


    Dengan berbicara dalam dunia ilmu pengetahuan, secara keilmuannya, sebuah makam yang tidak asal usulnya misterius, bisa menelusuri lewat ciri fisiknya.


     Atau melalui penanda yang ada di makam yang menunjukkan waktu pembuatannya, atau tanaman atau pola pola lainnya.


    Kemudian tidak menolak dengan pembacaan gaib dan semacamnya, cuma kendalanya adalah kalau tidak bisa diverifikasi yang artinya tidak bisa dipertanggungjawabkan.


    Jika dengan cara terawangan ketika di lapangan atau suatu tempat yang sedang dikaji, kalau ada 10 orang yang membaca secara gaib terhadap satu makam. 


    Maka bakal muncul 10 nama yang berbeda, padahal persoalan sejarah bukan otoritas spiritual.


    Spiritualitas itu bukan otoritasnya untuk bicara sejarah. Karena sejarah adalah otoritas data, otoritas historiografi, dan otoritas observasi lapangan.


    Sebenarnya perihal spiritualitas ini memang sejak dari awal tidak turun untuk mengkonfimasi sejarah. Apalagi membentuk sejarah. 


    Otoritas spiritual itu sejak menjadi sebuah disiplin dalam Islam adalah disiplin nafsu. Sehingga, ketika bicara sejarah, maka akan gagal.


    Memungkasi tulisan ini dengan kutipan menarik, 

    “Karena sejarah bukan nafsu manusia. Sejarah itu dunia objektifnya manusia. Sehingga kalau ada perbedaan data memang begitu lah,”

    Wallahu a'lam bisshowab. 


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Yang Menarik

    +