![]() |
| Cerita Baru di Atas Bus Trans Banyumas: Dari Terminal Bulupitu ke Kota Lama |
Wonosobo Media - Pagi itu, Terminal Bulupitu belum sepenuhnya riuh. Kabut tipis masih menggantung, seperti kebiasaan Banyumas saat hari baru dimulai.
Di antara deru sepeda motor dan suara klakson angkot, sebuah bus biru-putih berhenti dengan tenang. Di kaca depannya tertera tulisan yang belakangan sering jadi bahan obrolan warga: Trans Banyumas Koridor 4.
Mulai 1 Januari 2026, bus ini tak lagi sekadar kendaraan. Trans Banyumas ini menjadi penanda perubahan kecil namun penting dalam cara orang Banyumas bergerak, bekerja, dan pulang ke rumah.
Transportasi yang Dulu Jauh, Kini Mendekat
Bagi sebagian warga di wilayah selatan Banyumas, transportasi umum kerap terasa seperti cerita lama yang tertinggal. Ada, tapi tak selalu menjangkau. Ada, tapi sering tak sinkron dengan kebutuhan harian.
Koridor 4 hadir untuk mengisi ruang kosong itu. Rute ini menghubungkan Terminal Bulupitu dengan Terminal Kejawar di sekitar RSUD Banyumas, melewati kawasan-kawasan yang selama ini hanya dilewati kendaraan pribadi: Berkoh, Kalibagor, Alun-alun Banyumas, hingga Kota Lama Banyumas wilayah yang menyimpan sejarah sekaligus denyut aktivitas warga.
“Sekarang ke rumah sakit atau ke Kota Lama nggak perlu mikir naik apa,” kata seorang penumpang yang duduk dekat jendela, tas kerja masih rapi di pangkuannya. Ia bukan sedang berwisata. Ia hanya ingin sampai tepat waktu.
Rute yang Tak Sekadar Garis di Peta
Koridor ini bukan dirancang asal sambung. Ia seperti benang yang menjahit kepentingan-kepentingan sehari-hari: sekolah, pasar, rumah sakit, kantor, hingga ruang publik.
Bus melaju dari Bulupitu, menyusuri Berkoh yang padat, masuk Kalibagor yang mulai ramai sejak pagi, berhenti sejenak di sekitar Alun-alun Banyumas tempat orang biasa bertemu, menunggu, atau sekadar duduk tanpa tujuan jelas.
Dari sana, perjalanan berlanjut ke Terminal Kejawar, lalu memutar melalui Kota Lama, Depo Pelita, Purwokerto, Pasar Wage, hingga MAN 2, sebelum kembali ke titik awal.
Tanpa Bus Baru, Tapi Dengan Cara Baru
Menariknya, Koridor 4 tidak lahir dari armada baru atau anggaran tambahan. Bus-bus yang beroperasi adalah hasil pengaturan ulang sembilan unit yang dimaksimalkan dari koridor lain.
Di tengah keterbatasan, pemerintah daerah memilih efisiensi. Alih-alih menunggu dana besar, mereka menggerakkan apa yang sudah ada.
Hasilnya justru terasa: bus tetap berjalan, tarif tetap terjangkau, dan layanan tetap bisa dinikmati semua kalangan.
Kadang, perubahan tidak selalu datang dari sesuatu yang baru. Tapi dari keberanian mengelola yang lama dengan cara berbeda.
Kota Lama, Kini Tak Lagi Jauh
Salah satu dampak paling terasa dari Koridor 4 adalah terbukanya akses ke Kota Lama Banyumas. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai ruang sejarah, kini semakin mudah dijangkau tanpa kendaraan pribadi.
Anak muda mulai naik bus untuk sekadar ngopi di akhir pekan. Keluarga datang membawa anak-anaknya mengenal bangunan tua.
Pelan-pelan, transportasi publik ikut menghidupkan ruang budaya. Bus bukan hanya mengantar orang, tapi juga ide, cerita, dan pertemuan.
Antara Antusiasme dan Catatan Kecil
Hari-hari awal operasional menunjukkan satu hal: bus ini dibutuhkan. Penumpang datang silih berganti. Kursi jarang kosong lama.
Namun di balik itu, masih ada catatan kecil, halte yang belum sepenuhnya layak, marka yang masih sederhana, dan jadwal yang perlu terus disempurnakan. Tapi barangkali, kota memang tumbuh seperti itu. Tidak sempurna sejak awal, tapi bergerak.
Bus, Kota, dan Harapan
Koridor 4 Trans Banyumas bukan sekadar tambahan trayek. Ia adalah simbol bahwa transportasi publik bisa kembali relevan di kota-kota kecil.
Bahwa bus tidak harus kalah oleh motor. Bahwa perjalanan bisa lebih tenang tanpa harus selalu terburu-buru.
Di atas kursi bus itu, orang-orang membawa cerita masing-masing, mulai Januari 2026, sebagian cerita itu akan bertemu di satu jalur yang sama dari Bulupitu sampai Kota Lama, dari pagi sampai sore, dari kebutuhan sampai harapan.

