• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Empat Hidden Gem Kuliner Semarang: Murah, Enak, dan Tak Perlu Antre Panjang

    , 19.35 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Empat Hidden Gem Kuliner Semarang: Murah, Enak, dan Tak Perlu Antre Panjang
     Empat Hidden Gem Kuliner Semarang: Murah, Enak, dan Tak Perlu Antre Panjang


    Wonosobo Media - Semarang sering kali dipersempit maknanya jadi urusan lumpia, tahu gimbal, dan foto-foto di Kota Lama


    Padahal, kalau mau sedikit belok dari rute wisata mainstream, kota ini menyimpan banyak tempat makan yang rasanya jujur, harganya bersahabat, dan tidak ramai influencer.


    Bukan restoran besar dengan papan nama mencolok. Bukan pula tempat viral yang bikin dompet ikut diet. Tapi justru warung-warung sederhana yang diam-diam punya pelanggan setia. 


    Inilah empat hidden gem kuliner di Semarang yang layak dicoba terutama kalau kamu percaya satu hal: rasa enak tak selalu butuh tempat mewah.


    1. Putra Puas: Datang Lapar, Pulang Bahagia


    Nama tempat makan ini tidak berlebihan. Putra Puas memang dirancang untuk satu tujuan: membuat orang pulang dalam keadaan kenyang dan puas.


    Menu andalannya adalah sop iga dengan kuah bening tapi kaya rasa. Iga sapinya empuk, lepas dari tulang tanpa perlu banyak tenaga. 


    Bumbunya tidak neko-neko, tapi justru itu yang bikin nagih. Selain sop iga, ada juga sate sapi, empal goreng, krengsengan, sampai sop balungan untuk kamu yang suka sensasi makan “berjuang”.


    Harga makanannya masih masuk akal untuk ukuran Semarang. Cocok buat makan siang setelah kerja atau makan malam bareng keluarga tanpa drama hitung-hitungan di kasir.


    2. Waroenk Jalanan Verosincky: Steak Rasa Warung, Harga Anak Kos


    Kalau mendengar kata “steak”, yang terbayang biasanya menu mahal dengan piring besar dan saus ribet. Tapi Waroenk Jalanan Verosincky membuktikan sebaliknya.


    Di sini, steak bisa kamu nikmati dengan harga yang bahkan lebih murah dari sebungkus rokok. Rasanya memang bukan steak restoran hotel, tapi justru itu poinnya. Dagingnya dimasak sederhana, sausnya gurih, dan porsinya cukup untuk mengganjal perut.


    Selain steak, ada ayam mentega, mie hot plate, kwetiau, dan nasi goreng yang jadi favorit pelanggan tetap. Tempatnya sederhana, tapi selalu hidup karena yang datang bukan sekadar cari makan, tapi cari kenyamanan.


    3. Kuliner Enak Tak Harus Viral


    Salah satu kelebihan tempat-tempat seperti ini adalah: kamu bisa makan dengan tenang. Tidak perlu antre panjang. Tidak harus foto dulu sebelum suapan pertama. Tidak ada tekanan untuk bilang “worth it” demi konten.


    Justru di warung-warung seperti inilah rasa diuji tanpa gimmick. Kalau tidak enak, pelanggan tidak akan datang lagi. Dan faktanya, tempat-tempat ini tetap bertahan—bahkan tanpa promosi besar-besaran.


    4. Semarang dan Warisan Rasa yang Bertahan Diam-Diam


    Hidden gem kuliner di Semarang seperti ini adalah bagian dari denyut kota itu sendiri. Ia hidup dari mulut ke mulut, dari rekomendasi teman, dari sopir ojek, atau dari pelanggan lama yang datang bertahun-tahun.


    Di tengah tren kuliner yang serba cepat dan viral, tempat-tempat ini memilih jalur sunyi: fokus pada rasa, bukan sorotan kamera.


    Kalau suatu hari kamu berada di Semarang dan bosan dengan rute wisata yang itu-itu saja, cobalah berhenti di tempat makan yang tidak terlalu ramai, yang papan namanya biasa saja, tapi dapurnya jujur.


    Karena sering kali, makanan paling enak tidak ditemukan lewat pencarian viral, tapi lewat keberanian mencoba tempat yang kelihatannya sepele, dan Semarang, diam-diam, punya banyak tempat seperti itu.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +