• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Masjid Saka Tunggal, Syiir Jawi, dan Adzan Tolak Balak yang Menjaga Tatanan

    , 18.05 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Masjid Saka Tunggal, Syiir Jawi, dan Adzan Tolak Balak yang Menjaga Tatanan.
    Masjid Saka Tunggal, Syiir Jawi, dan Adzan Tolak Balak yang Menjaga Tatanan


    Wonosobo Media - Doa, dzikir hingga lantunan syiir dilangitkan ketika sudah "manjing" waktu kisaran setengah 12, selepas bedug dan kentongan lawas dipukul oleh sesepuh wilayah itu.


    Selawat nabi terdengar lirih tetapi tegas diselingi lafadz istighfar, memuji dan memohon ampun kepada Gusti Allah serta ungkapan katresnan kepada kekasih-Nya. 


    Lantunan tersebut pun dibawakan secara bersama-sama oleh semua jemaah yang hadir sebelum waktu sholat jumatan dimulai.


    Nada khas Jawi sebagai ritme syiir yang disenandungkan seakan menjadi pintu ke masa lalu seperti lantunan puji-pujian mbah-mbah di langgar selepas adzan menunggu imam hadir dan dipungkasi iqomah.


    Nada atau yang berselaras dengan aksen khas "ngapak" ini yang syahdu dan mendayu-dayu terdengar asyik dan sangat kalcer. 


    Apalagi dari segi bangunan masjid masih utuh menggunakan konsep bangunan khas Jawa, berbahan kayu, hingga bambu serta ada satu saka (saka one) di tengah bangunan dihiasi ukiran, sulur-sulur, bunga daun motif yang khas.


    Saka lainnya di serambi masjid itu juga ada beberapa, menyesuaikan kelipatan-kelipatan mulai dari empat. 


    Menariknya lagi urusan adzan pada jumatan ini pun digawangi oleh empat orang, istilah ini juga kerap disebut dengan "adzan tolak balak". 


    Suara adzan berkumandang dengan nada yang juga khas dilantunkan oleh 4 orang sekaligus memakai iket kepala Jawi dan berjubah warna putih. 


    Singkatnya, sampai pada runtutan syarat dan rukun sebuah ibadah pada umumnya, dipungkasi dengan wirid, dzikir hingga doa yang khusyu' nan khidmah. 


    Kami pun turut ikut larut dalam prosesi yang menarik tersebut, gelombang ini yang agak sulit dijabarkan secara detail tetapi bikin hati ayem. 


    Jika ada ungkapan, "percayalah, bro ini telah melakukan berkali-kali" memang benar adanya, selain menjaga tradisi dan warisan para leluhurnya tentunya tak sekadar rutinitas belaka 


    Tetapi menjadi bagian doa dan menjaga sebuah tatanan peradaban.


    Nah nyatanya kami melalui peristiwa dan perjalanan ini menjadi sebuah pengalaman yang berkesan dan masih pada ranah pengetahuan belaka belum pada dingelmuni secara 'mbalung sum-sum'. 


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +