• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Menjelajah Kuliner Malam Wonosobo, Ada Tiga Kuliner yang Lebih Hangat dari Jaket Tebal

    , 21.14 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Menjelajah Kuliner Malam Wonosobo, Ada Tiga Kuliner yang Lebih Hangat dari Jaket Tebal
    Menjelajah Kuliner Malam Wonosobo, Ada Tiga Kuliner yang Lebih Hangat dari Jaket Tebal/gmaps.


    Wonosobo Media - Wonosobo memang paling sering disebut ketika pagi. Tentang embun Dieng, tentang matahari yang bangun lebih dulu dari manusia. 


    Padahal, justru malam hari kota kecil ini menyimpan kehangatan lain bukan dari api unggun, melainkan dari piring-piring sederhana yang rasanya membekas.


    Ketika suhu turun dan angin mulai menyusup sampai ke jaket, kuliner malam di Wonosobo hadir sebagai penawar paling masuk akal. 


    Bukan makanan mewah, tapi jujur. Bukan soal plating, tapi soal rasa dan cerita. Inilah tiga kuliner malam yang layak dicari, bukan sekadar ditemui.


    1. Mie Ongklok: Semangkuk Tradisi yang Tak Pernah Tua


    Makan mie ongklok di Wonosobo itu seperti pulang, meski kamu sedang liburan. Mi kuning yang direbus dengan keranjang bambu, lalu disiram kuah kental bercita rasa gurih-manis, selalu berhasil menciptakan sensasi hangat yang pelan-pelan merayap ke badan.


    Yang membuatnya istimewa bukan cuma rasanya, tapi caranya bertahan dari zaman ke zaman. Mie ongklok tetap sederhana, tidak banyak berkompromi dengan tren. 


    Disajikan bersama irisan kol, daun kucai, dan taburan bawang goreng, lalu disantap di tengah udara dingin rasanya jadi lengkap, apalagi disandingkan dengan tempe kemul yang renyah sangat cocok lho.


    Di Wonosobo, mie ongklok bukan sekadar menu. Ia identitas, jika penasaran bisa singgah di MIe Ongklok Longkrang atau yang ada di sekitar Alun-alun Wonosobo ya.


    2. Nasi Megono: Kesederhanaan yang Mengenyangkan Ingatan


    Kalau kamu mencari makanan malam yang membumi, nasi megono jawabannya. Nasi hangat dengan olahan kubis, sawi, sayuran dan berbumbu rempah racikan yang khas masakan di Wonosobo, ditemani lauk-lauk rumahan seperti tempe kemul, bakwan, atau sambal, menghadirkan rasa yang akrab seolah dimasakkan oleh dapur rumah sendiri.


    Tak ada rasa yang berteriak, tapi semuanya pas. Justru di situlah kekuatannya. Nasi megono tidak mencoba memukau, tapi menguatkan. Cocok dimakan pelan-pelan sambil menunggu malam semakin larut.


    Bagi warga lokal, ini makanan biasa. Bagi pendatang, ini pelajaran bahwa kenikmatan tak selalu datang dari yang ribet. sajian kuliner satu ini kerap dijumpai di pagi hari untuk sajian sarapan pagi, namun kalian juga bisa menjumpai nasi megana ini di malam hari lho! lokasinya di dekat Klinik Yasfina yang ada di Kauman Utara, Wonosobo, dekat dengan alun-alun juga.


    3. Soto Sapi: Hangatnya Sampai ke Percakapan


    Ketika dingin terasa berlebihan, soto sapi hadir sebagai solusi klasik. Kuah bening-gurih dengan potongan daging sapi empuk ini tak hanya menghangatkan perut, tapi juga suasana. 


    Soto seringkali dimakan sambil ngobrol tentang perjalanan, tentang rencana besok, atau sekadar mengeluh soal udara yang terlalu dingin.


    Disajikan dengan nasi, sambal, dan perasan jeruk nipis, soto sapi Wonosobo punya karakter ringan tapi berisi. Tidak terlalu berminyak, tidak terlalu berat. Pas untuk makan malam tanpa rasa bersalah.


    Malam di Wonosobo memang menusuk, tapi selalu ada cara untuk menghangatkannya. Lewat semangkuk mie ongklok, sepiring nasi megono, atau soto sapi yang mengepul pelan-pelan.


    Kuliner malam di kota ini bukan soal berburu rasa viral, melainkan menemukan keakraban. Tentang duduk sederhana, makan secukupnya, dan pulang dengan perut kenyang serta hati yang entah kenapa terasa lebih tenang.


    Boleh jadi, itulah alasan kenapa banyak orang selalu ingin kembali ke Wonosobo bukan hanya karena alamnya, tapi karena malamnya yang bersahaja dengan sajiannya yang bikin kangen.***

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +