![]() |
Jaringan Murid dan Sanad Keilmuan KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo. |
Wonosobo Media - Masih berkaitan dengan tulisan perihal murid-murid KH Ahmad Rifa'i yang secara sanad keilmuan masih bersambung, dakwah yang dipegang dan dijabarkan oleh sang kiai ini tidak lain adalah li i'la likalimatillah (syiar ajaran Islam).
Perihal perbedaan cara pandang boleh dikesampingkan dahulu, namun apa yang menjadi pijakan kini atau dahulu sebenarnya berjuang untuk melawan penjajah.
Secara fiqhiyah KH Ahmad Rifa'i sendiri adalah sosok yang mengawal fikih Syafi'i dan akidah Ahlussunah wal Jama'ah melalui ajaran tarajumah kepada masyarakat luas, tetapi juga pengungkapan sikap politik Kiai Ahmad ar-Rifai terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Bagiamana sepak terjang secara blakasuta, jelas memandang penjajah dengan sebutan kafir dsb, tetapi bukan itu yang akan dibahas lebih detail.
Melalui Nazam Tarekatnya Mbah Ahmad Rifa'i mewedar, dan memberi ibarat bahwa tarekat yang ia jalani dengan melawan penjajah adalah bagian dari suluk perjuangan yang disebut tarekat itu sendiri.
Meskipun pada kitab karangan lainnya juga banyak yang membahas perihal taqwa, pasrah, tawakkal hingga pemaknaan-pemaknaan tahapan mahabbah kepada Gusti Allah.
Hingga dalam beberapa catatan dan kajian corak tasawuf yang diajarkan Kiai Ahmad ar-Rifai sendiri berujung pada kesimpulan bahwa corak tasawuf Kiai Ahmad ar-Rifai adalah tasawuf falsafi.
Persebaran dakwah ini juga yang sampai sekarang ini bisa masuk dan nyambung dengan kasunyatan realita kehidupan yang ada.
Misalnya, seperti yang disebutkan oleh Tasim, salah satu warga Rifaiyah katakanlah menceritakan kitab-kitab karangan Mbah Rifa'i ini relevan, ada kitab Riayatul Himah, Bai' urusan jual beli, Abyan al-Hawa'ij, Husn al-Mațalib, atau tahyiroh, berbicara tentang urusan teologi.
Sama seperti halnya yang diceritakan oleh salah satu jemaah Rifaiyah juga di Garung Reco menyebutkan ada kitab yang disebut rukunan, kitab ini juga masih relevan dikaji dan dilantunkan setiap ada kegiatan rutinan selapanan dan sebagainya.
Dari karangan Mbah Rifa'i ini juga unik dan menarik, ia sosok yang pandai dalam membuat tulisan dengan beberapa langgam atau gaya nada, syiir berarti nada arab, tembang berarti sesuai nada metrum macapat Jawa, hingga lagu Melayu.
Bisa dibilang perihal sastra memang beliau ahli juga untuk menunjang, menuangkan pemikiran melalui gaya lagi dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Jaringan Murid KH Ahmad Rifa'i di Wonosobo
Lain kisah lagi seperti murid Mbah Rifa'i yang berada di Sapuran, dengan pola dakwahnya yang memang mumpuni urusan hadits, hingga diberi sebutan lakob Mbah Hadits, yang boleh jadi pada zaman dahulu selain mbalung sum sum urusan hadits juga mumpuni di bidang Al-Qur'an, hingga qoul-qoul pada ulama.
Kiai tersebut adalah Mbah Abdul Hamid atau Mbah Hadits disebutnya, yang nantinya estafet dakwahnya selepas wafat Mbah Hadits yang diperkirakan antara tahun 1868 ini dilanjutkan oleh Mbah Busyro hingga tahun 1926 lalu diteruskan oleh anaknya seperti Kiai Risdan, Kiai Burhan, Kiai Khasbullah dsb.
Masih pada sumber yang sama, disebutkan bahwa pengajian rutinan yang ada di Sambek Wonosobo juga kerap didatangi oleh penerus Mbah Abdul Hamid dari Sapuran, yaitu Kiai Burhan.
Atau dihadiri dari Kalibening Kiai Muhammad Sajuri, hingga tertulis beberapa nama murid ini yang meneruskan dan berdakwah di wilayahnya masing-masing, seperti ada nama Muhammad Rafii, Hasan Wahid, hingga M Ahyar.
Nah dari beberapa nama hingga sebuah sanad keilmuan ini menjadi saling berkaitan dan berkesinambungan dimana pusaranya nyambung ke KH Ahmad Rifa'i, saling sambang untuk satu tujuan yaitu dakwah dan perjuangan secara lillah.***

.jpg)