![]() |
| KH. Hadlor Ihsan (tengah) samping kiri KH Chalwani di haul Mbah Sholeh Darat, Bergota Semarang. |
Wonosobo Media - Perjumpaan dengan KH Hadlor Ihsan tentu tidak seintens para santri, sahabat, atau para keluarga di sekitarnya. Ibaratnya saya hanya seorang yang mengaku santri dari luar yang "golek pantes" memantaskan ngangsu kawruh dengannya.
Mengenal sosok Kiai Ahmad Hadlor Ihsan pun berkat saya pada tahun 2019 melaksanakan suluk di Semarang, dan sekadar mengenal dari jauh, di sebuah daerah di Kota Semarang tepatnya di Mangkang ada Pondok Pesantren Al-Islah Mangkang yang diasuh oleh beliau.
Banyak riwayat kisah terkait dengan pondok tersebut hingga keteladanan dari para sesepuh di Mangkang atau yang diwedar oleh Abah Hadlor Ihsan, paling sering adalah ketika bersinggungan langsung oleh seseorang yang juga menjadi santri beliau dan menceritakan banyak pengalaman dan pesan yang ia ambil ditularkan kepada saya.
Lain halnya ketika saya singgah di sebuah wilayah di Pantura yang ternyata tokoh ini pun juga salah satu alumni dari pondok Al Islah Mangkang juga.
Selingan kisah pengalamannya ketika di Mangkang, atau ketika nyantri dengan Abah Hadlor pun saya rekam baik dari seorang yang menjadi tokoh di Pantura ini, ibarat alumni adalah benih yang telah disemai di tanam di suatu wilayah, jadi menurut nalar dan lubuk hati pun sama halnya saya sedang ngangsu kepada buah yang tidak jauh dari pohonnya atau induknya.
Perjumpaan lainnya yaitu ketika Abah Hadlor sempat singgah ada acara di PCNU Kota Semarang ketika saya sedang PPL di Lazisnu Kota Semarang, meski tak sempat bersalaman hanya melihat saja, namun hati ini mongkok merasa puas, mbatin wah bisa 'bertemu" beliau, meski hanya melihat saja namun terasa marem.
Selanjutnya ada pengalaman lain ketika Abah Hadlor Ihsan mengisi mauidhoh khasanah di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo pada akhirussanah pondok sekitar tahun 2022 meski hanya menyimak via YouTube karena waktu itu masih pandemi sehingga diberlakukan hybrid ngaji online dan offline, dan kebetulan saya masih di rumah dan menyimak online.
Salah satu yang ia sampaikan perihal khidmah di pesantren juga terkait dengan ikhlas, bahwa keikhlasan menjadi kunci bagi santri dalam menimba ilmu di dalam pesantren.
Dawuh-dawuhnya yang menyejukkan, meski ada selingan guyonan khas beliau tapi pesan yang disampaikan pun dapat menjadi jimat tersendiri bagi saya yang menyimak, motivasi bisa menjadi pemantik diri dalam laku kehidupan.
Lanjut persinggungan mengaji dengan Abah Hadlor Ihsan yaitu ketika nderek khurmat Haul KH Sholeh Darat yang ke 123 sekitar tahun 2023 yang lalu. Meski beberapa kali haul di Bergota saya masih lamat-lamat meraba apa yang disampaikan tetapi kala itu seingatan saya Abah Hadlor menyampaikan salah satunya dengan mengutip dari kitab karya Mbah Sholeh Darat terkait haji, yaitu "Manasikul Haji wa Umroh".
Selain itu ketika sempat terkadang menyimak rutinan ngaji tafsir Jalalain, atau video-video rekaman lainnya seperti pada waktu sedang mencari data terkait dengan Syeh Ikhsan Jampes dan mencoba mencari rekaman ngaji Siroju Tholibin, algoritma mengarahkan ke saluran Pondok Al Islah Mangkang, sepanjang atau sejauh kita kemana, nyatanya algoritma atau ikatan batin bakal diarahkan ke beliau kembali.
Jadi seperti menjadi pengingat juga bahwa diri ini untuk senantiasa ngaji, meski agak belok dikit, belok kencengen, keluar jalur bakal diarahkan ke jalur kembali, notifikasi mengaji. Sehingga pada Kamis kemarin seperti ngaji via online terakhir dengan Abah Hadlor, kini beliau sudah sowan Gusti Allah.
Kenangan atau sebuah obat klangenan bisa melalui video di lini media sosial, sebagai santri, "golek pantes" melanjutkan tongkat estafet perjuangannya. Sugeng kondur Yai, swargi langgeng.

