• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Tujuh Tahun Majelis Sorban Wali, Bertongkatkan Adat Beralaskan Sejarah

    , 22.17 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Tujuh Tahun Majelis Sorban Wali, Bertongkatkan Adat Beralaskan Sejarah

    Tujuh Tahun Majelis Sorban Wali, Bertongkatkan Adat Beralaskan Sejarah. 



    Wonosobo Media - Sabtu Kliwon, 7 Februari 2026 Sorban Wali, sebuah majelis paseduluran di Batang kembali menggelar rutinan.


    Istilah mengistiqomahi sebuah majelis ilmu ini dengan sulukan, yang setiap pekannya selalu konsisten ada ta'lim-wataalum, ngaji, berdiskusi apapun itu setia bergilir di masing-masing wilayah di Kabupaten Batang.


    Dari Suluk Winangun, Suluk Lemah Teles dan beberapa Suluk lainnya yang ada di Batang ini meneguhkan sebuah majelis ilmu. Sebagaimana pada malam itu juga tengah menapaki ulang tahun yang ke-7.


    Satu sisi tentu ada yang mengucapkan tidak terasa sudah 7 tahun saja, satu sisi lain atau bagi para penggiat dan jemaah yang telah berlangsung selama 7 tahun ini sangat terasa sekali ketika berkumpul, mengaji, berdiskusi dan mengeksekusi sebuah ide-gagasan. 


     Tentu ada kejenuhan, ada dialektika, pasang surut yang hadir, energi berlebih, motivasi-demotivasi atau apapun itu hingga terkadang ketika ada sebuah ungkapan jangan bubar dulu bisa menjadi beban pikiran bagi para penggerak motor roda Sorban Wali.


    Celetukan sanjungan, hujatan hingga label-label lainnya pun juga ada dan menyertai sampai saat ini, namun bukan menjadi kendala, malahan hal itu menjadi pemantik semangat, bukan untuk membuktikan kepada siapapun, tetapi kepada diri bahwa suluk ini masih panjang.


    Seperti halnya kalimat yang menjadi taglinenya; bertongkatkan adat, bertindak beralaskan sejarah saling asah, asih asuh ini bisa jadi lambaran untuk nandangi sesuatu hal.


    Menghadirkan Kanjeng Nabi dalam relung batin, mengkaji kitab karya Mbah Sholeh Darat, Imam Nawawi Banten atau ulama Nusantara lainnya, secara tekstual dan membaca kitab kontekstual membaca arah zaman melalui bidang dan profesi masing-masing.


    Sembari menilik waktu ke belakang, dari milad ke milad, mulai milad pertama, kedua, ketiga hingga sampai ke tujuh ini yang digelar setiap tahunnya banyak referensi, refleksi untuk sebuah majelisan, diri personal, hingga melebar ke ruang waktu lingkungan maupun berani cawe-cawe urusan ummat atau bangsa. 


    Nah, bertepatan dengan tahun ke tujuh ini, tujuh atau dalam bahasa Jawa: pitu, tentunya banyak harapan dan doa dilangitkan, mensyukuri nikmat dari Gusti Allah memuji rasa katresnan kepada Kanjeng Nabi hingga menyapa para kekasih-Nya untuk nyengget langit "setor proposal" kepada Tuhan. 


    Pitu bisa dimaknai, dilanjutkan kalimatnya dan ditadabburi sebagai pitulungan, memohon pertolongan, pituduh atau petunjuk. 


    Dari Suluk Terompet Kanjeng Nabi mengucapkan selamat milad ke 7 untuk Sorban Wali, doa-doa tetap wajib dilangitkan semoga mendapatkan pitulungan, pituduh, pitutur dan tanpa terikat nominal angka yang kita harapkan.


    Mabruk Alfa mabruk! Aja bubar deset..


    Meski pun ada atau tidaknya sebuah majelisan juga bukan sebuah yang diharuskan, dulu belum ada Sorban Wali, kini ada Sorban Wali, misal nanti  bubar, ya perlu dipertimbangkan, yakali nggak kuy  😂


    *Foto dokumentasi bisa diakses di sini : Harlah Majelis Sorban Wali Batang.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +