• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Masjid Jami Pekojan Semarang: Saksi Sejarah, Arsitektur Khas, dan Tradisi Ramadan yang Lestari

    , 12.32 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

      

    Masjid Jami Pekojan Semarang: Saksi Sejarah, Arsitektur Khas, dan Tradisi Ramadan yang Lestari
    Masjid Jami Pekojan Semarang: Saksi Sejarah, Arsitektur Khas, dan Tradisi Ramadan yang Lestari.

    Wonosobo Media - Terdapat di Semarang ada sebuah masjid tua yang populer dengan sebutan Masjid Jami Pekojan.


    Masjid Jami Pekojan di Semarang ini memiliki arsitektur bangunan yang unik. Dikisahkan menurut salah satu warga Pekojan, masjid ini tempat persinggahan pedagang dari Gujarat India sehingga terlihat dari arsitektur juga ukiran dari masjid Jami Pekojan ini merupakan akulturasi dari Gujarat dan bangunan Jawa. 


    Dikisahkan masjid tersebut dibangun pada tahun 1973 merujuk dari angka tahun pada makam Syarifah Fatimah binti Husain Al Idrus yang berangka tahun 1290 Hijriyah. 


    Masjid Jami Pekojan di Semarang ini diperkirakan sudah berusia 1,5 abad, bisa dibilang termasuk bangunan cagar budaya


    Masjid ini berada di kampung Pekojan Purwadinatan Semarang tengah Kota Semarang, dapat disebut pula sebagai salah satu masjid tertua di Semarang Jawa Tengah.


    Sebuah wilayah di Semarang seperti Pekojan ini untuk istilah Pekojan sendiri berasal dari kata Koja yang menunjukkan suku atau daerah di India.


    Kembali pada gambaran Masjid Jami Pekojan ini memiliki empat tiang kayu di bangunan utama. Menariknya Masjid Pekojan ini masih utuh dan berdiri kokoh. 


    Masih menunjukkan arsitektur bangunan khas Jawa dengan empat saka yang menaungi, dimana biasanya nanti sebuah saka ini menyesuaikan bangunan dan kelipatannya empat seterusnya.


    Dari segi lantainya pun menggunakan lantai dari marmer, kemudian tampilan pintu kaca patri serta mimbar kayu atau mimbar bayan tampak kuno, terdapat ukiran sulur khas dan ada ukiran berupa tongkat ber kepala burung.


    Uniknya, menurut beberapa penuturan tongkat ini jika dicabut akan ada mata pisau panjang. Diketahui tongkat kayu bermata pisau ini salah satu senjata untuk melawan penjajah.


    Bahkan terdapat tradisi yang unik pula ketika masuk bulan Ramadan, di masjid ini bakal membuat menu buka puasa dengan sajian bubur khas Koja, diracik dengan resep khas dan khusus yang nantinya di sajikan kepada masyarakat sekitar ketika adzan Maghrib berkumandang.


    Gambaran yang menarik dan bikin takjub, guyub rukun antar warga tanpa sekat, tidak membedakan sebuah latar belakang apapun, semua asyik dan melebur menjadi satu, bahwa hal ini bagian dari mencontoh teladan nabi dan nguri-uri ajaran agama. 


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +