![]() |
| Museum KH Ahmad Rifa'i di Kalisalak Limpung Kabupaten Batang/Khusni2026. |
Wonosobo Media - Kembali diperjalankan dan singgah di sebuah wilayah yang pernah menjadi tilas dari seorang tokoh yang berpengaruh dalam kancah perjuangan melawan penjajah.
Selain itu juga sebagai wilayah dari jalan dakwah untuk membawa amanat yang bersambung dari gurunya hingga pesan itu juga bisa kita jalani, kini hingga anak cucu mendatang.
Setelah menelusuri jaringan murid Syekh Ahmad Rifa'i atau Mbah Rifa'i di Wonosobo yang diceritakan oleh seorang warga Rifa'iyah. Pada Sabtu, (7/2) siang bisa singgah di Kalisalak, Limpung Kabupaten Batang.
Kalisalak ini menjadi salah satu wilayah singgah Mbah Ahmad Rifa'i, lebih tepatnya menurut penuturan sebelum diasingkan ke Ambon, Mbah Ahmad Rifa'i pernah membuat pondok di Kalisalak, Limpung Kabupaten Batang.
Kiprahnya dalam berdakwah di Kalisalak ini bisa dibilang berpengaruh, melalui karyanya sebuah kitab dengan nadhom, atau syiir hingga tembang ia karang dengan ditulis beraksara Pegon (teks arab berbahasa Jawa). Kitab yang dikarang oleh KH. Ahmad Rifa'i ini pun banyak, kisaran 60-an kitab.
Diceritakan pula oleh salah satu penggiat Duta Baca Buku di Kabupaten Batang, Aqila mengatakan bahwa menurut cerita tutur yang berkembang di sekitar Batang khususnya oleh warga Rifaiyah, bahwa terdapat tulisan Mbah Ahmad Rifa'i yang katanya menuliskan kalimat "merdeka, merdeka, merdeka.." dalam sebuah kitabnya.
Hanya saja ketika dicari, tulisan kalimat tersebut tertuang pada kitab apa, masih belum bisa ditemukan atau dikroscek ulang, sekadar kisah tutur yang dipercaya bagian dari gerakan Mbah Ahmad Rifa'i bersemangat membela Tanah Air.
Meskipun terkait dengan pemantik dari Mbah Ahmad Rifa'i ini dalam pergulatan melawan penjajah kolonial ini juga ada banyak riwayat yang mengisahkan.
Misalnya seperti menyamakan bahwa pihak kolonial Belanda itu kafir, hingga ada sebuah fatwa pula, ketika menikah di penghulu kolonial zaman dahulu, di warga Rifa'iyah ini ada istilah "Tajdidu Nikah" atau negesi kembali akad nikah.
Pemahaman akad ulang pernikahan ini dilaksanakan selepas akad di KUA, biasanya dari pihak mempelai nikah memasrahkan kepada Kiai Rifa'iyah yang dianggap sah untuk dijadikan saksi dan penghulu.
Meski pun terdapat beberapa ajaran yang bisa dianggap kurang relevan untuk diterapkan dalam beberapa aspek di era kekinian. Tetapi hal itu bisa juga dibilang sebagai bagian dari ke hati-hatian dan sifatnya jika dimaknai pada era sekarang segi hakikatnya menjadi relevan juga.
Memang jika dibenturkan dengan teori barat atau menganut zaman modern bakal dianggap tidak relevan atau kurang tepat, soalnya cara pandang untuk berpijak yang berbeda.
Juga dalam perjalanan dakwah hingga kini pun sudah tidak ada sekat atau jarak apapun sebab landasannya rahmatan lil 'alamin, dengan dakwah yang santun, saling menghormati.
Nah kembali ke jejak Mbah Ahmad Rifa'i lainnya, menurut Khabib, selaku juru pelihara museum KH Ahmad Rifa'i di Limpung ini mengatakan, "pada zaman penjajahan Belanda, tanah Kalisalak memang bekas pondok Syekh Ahmad Rifa'i terkenal memiliki jaringan murid-muridnya tersebar ke beberapa wilayah.
"Wilayah tersebut terutama di Jawa Tengah, Jawa barat bahkan sekarang sudah melebar sampai keluar pulau." Tambah Khabib, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Jejak peninggalan KH Ahmad Rifa'i ini juga selain bentuk kitab yang telah disalin oleh para murid-muridnya, masih menurut Khabib ada jejak berupa batu ukir yang sekarang ini sudah di pindah di masjid Baitul Muttaqin Karanganyar Limpung.
Sebab terdapat kisah yang unik pula, dahulu batu tersebut dianggap benda keramat.
"Jadi setiap malam Jumat Kliwon ramai yang berdatangan orang-orang meminta nomer pada benda tersebut maka biar aman lebih baik diamankan." Jelas Khabib, singkat Selasa (10/2) sore.
Ada pula peninggalan yang sampai sekarang ini dilestarikan yaitu Batik Rifa’iyah. Di Desa Kalipucang Wetan Kecamatan Batang, batik tersebut berciri khas motif flora, fauna.
Misalnya motif yang tidak utuh (terpotong), dan pola remukan. Lain lagi seperti motif Pelo Ati yang memiliki makna filosofis spiritual, yaitu (kebersihan hati) hingga motif alas roban dan motif lainnya yang kaya akan pesan filosofis.

