• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Nasihat Lembut KH Ahmad Rifa’i dalam Syiiran Akhir Zaman yang Mudah Dihafal

    , 21.12 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Nasihat Lembut KH Ahmad Rifa’i dalam Syiiran Akhir Zaman yang Mudah Dihafal
    Nasihat Lembut KH Ahmad Rifa’i dalam Syiiran Akhir Zaman yang Mudah Dihafal.

    Wonosobo Media - Sebagaimana diketahui, ketika KH Ahmad Rifa'i ketika membuat sebuah karya tulisannya, bisa diklasifikasikan menjadi beberapa pola. 


    Misalnya ketika menulis ada sebuah judul syiiran berarti pola yang dibuatnya yaitu mengikuti aturan seperti membuat nadhom dengan segala kaidah di dalamnya.


    Sementara ketika ada sebuah bagian dari judul "tembang" maka aturan yang bisa dipakai untuk melantunkannya menggunakan pakem tembang macapat. Hingga sebuah teks langga khas Melayu.


    Nah kali ini terdapat sebuah syiiran yang ditulis oleh KH Ahmad Rifa'i jadi pakem tulisannya mengikuti sebagaimana mestinya sebuah runtutan sebuah nadhom.

     
    Mbah Ahmad Rifa'i Kalisalak menuliskan sebuah syiiran sebagai berikut:

    "Ilinga zaman wus akhir, akeh wong mikir langka wong dzikir.
    La haula walaquwata Illa billahi-l'aliyyil'adhim.

    Fikirane wong wedi fekir, sing dipikir mung isine takir.
    Ora mikir harom halal, asal seneng ora kurang amal.

    Jerone mung isine khayal, senajan nyolong ora dadi soal.
    Akeh santri longko kiyai, kang nuntun maring dalan ilahi.

    Mulane maksiyat tambah rata, ora desa ora kutha."

    Terjemahannya sebagai berikut:

    "Ingatlah, zaman sudah di ujung senja (zaman akhir)
    Banyak orang sibuk berpikir, tapi langka yang benar-benar berdzikir.
    La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.

    Pikiran manusia dipenuhi rasa takut akan kefakiran, yang dipikir hanya isi takir—urusan perut dan dunia yang tak pernah cukup.

    Tak lagi peduli halal atau haram,
    asal senang, merasa tak kurang amal.
    Padahal batinnya penuh khayal, bahkan mencuri pun bukan lagi perkara yang dianggap soal.

    Banyak santri, tapi sedikit kiai
    yang benar-benar menuntun ke jalan Ilahi.
    Maka tak heran maksiat kian merata,
    tak hanya di kota, bahkan sampai ke pelosok desa."

    Syiiran karya KH Ahmad Rifa'i ini memang menjadi sebuah pengingat getir di akhir zaman
    ketika manusia ramai oleh pikiran, namun sunyi dari kesadaran.

    Tentunya bukan untuk mengecam siapa, namun sebuah kesadaran pada diri kita ini bukan?

    Setiap per bait syiiran tersebut diselingi dengan kalimat "La haula walaquwata Illa billahi-l'aliyyil'adhim." Bagian dari lafaz yang menjadi doa pula.

    Sementara itu pada bagian yang lain di lembar halaman kedua, KH Ahmad Rifa'i menuliskan syiir lanjutannya, masih dengan aksara pegon, begini tulisannya:

    "Mula ayo konco sedulur cancut tandang ngelakoni jujur.
    Supaya Urip dadi wong makmur, ning akhirat dadi wong mujur.

    Ya Allah Gusti mugi paring rahmat, atase Gusti kita Kanjeng Nabi Muhammad.
    Mugi-mugi Allah paring taufiq lan hidayah, dateng kita sedaya Ahlussunah wal Jama'ah.

    Nyuwun keramat ing Gusti Allah, nyuwun berkah ing Rasulullah.
    Nyuwun rahmat ing para Auliya, nyuwun syafaat alim ulama."

    Terjemahan:

    Mari, kawan dan saudara, kita singsingkan lengan, melangkah dengan kejujuran.
    Agar hidup di dunia menjadi makmur dan berkah,
    dan kelak di akhirat menjadi insan yang beruntung.

    Ya Allah, ya Gusti, limpahkan rahmat-Mu
    kepada junjungan kami, Kanjeng Nabi Muhammad.
    Semoga Engkau anugerahkan taufik dan hidayah
    kepada kita semua, kaum Ahlussunah wal Jamaah.

    Kita memohon kemuliaan hanya kepada Allah,
    meminta berkah melalui Rasulullah.
    Mengharap rahmat para wali-Nya,
    dan syafaat para alim ulama.

    Pada hal tersebut sebagai bagian dari luapan doa dan harapan kepada Gusti Allah SWT.

    Hingga pada sebuah lembar terusannya seperti memungkasi bahwa beberapa poin yang telah ditulis oleh KH Ahmad Rifa'i dengan aksara pegon tersebut terdapat keterangan sebagai berikut ini:

    Uwis rampung pitakonan nem perkara, nuli ngendika malaikat maring sira.
    Ngendikane uwis kono turuha, kaya turune pengantene anyar nira.

    Turu sore tangi isuk mung sedela.
    Bismillahirrahmanirrahim
    Kawitane ngaji muji sukura, Gusti Allah pengeran nira.
    Welas asih dateng kawula, ning dunyane akhirate.

    Wajib kita kang ummat Islam, ayo anut burine panutan.
    Nabi Muhammad dadi utusan, agama Islam dari junjungan.

    Bakal urip selawase, Aqil baligh lanang wadon.
    Kersa kala melbu kuburan bakal tanpa pitakonan.

    Terjemahan:
    Ketika 6 perkara itu sudah selesai, dan malaikat pun berkata kepadamu, silakan beristirahatlah,
    tidurlah seperti pengantin baru yang damai.
    Tidur sore, bangun pagi, seakan hanya sesaat.”

    Bismillahirrahmanirrahim.


    Awal segala mengaji adalah puji dan syukur

    kepada Allah, Tuhanmu.
    Dialah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya,
    di dunia maupun di akhirat.


    Wajib bagi kita, umat Islam,
    mengikuti jejak sang teladan.
    Nabi Muhammad adalah utusan,
    pembawa agama Islam yang agung.


    Setiap insan baik lelaki dan perempuan yang telah baligh dan berakal,
    kelak akan hidup selamanya.
    Dan siapa yang teguh dalam iman,
    masuk ke alam kubur tanpa kebingungan dan tanpa kegelisahan.


    Nah itu dia, sebuah syiiran karya KH Ahmad Rifa'i yang memiliki pesan nasihat lembut namun dalam, agar lebih mengena dan meresap dibuat jadi syiir sehingga mudah dihafal.


    Salah satu pesan mendalam ini berkaitan tentang hidup yang jujur, iman yang lurus, dan pulang yang tenang. Wallahu a'lam bishowab.***


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +