• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Rahasia Doa Menurut KH Ahmad Rifa’i dalam Kitab Thoriqoh, Begini Penjelasannya

    , 18.29 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Rahasia Doa Menurut KH Ahmad Rifa’i dalam Kitab Thoriqoh, Begini Penjelasannya
    Ilustrasi: mushola di Desa Donorejo, Limpung Kabupaten Batang. 

    Wonosobo Media - Sebagaimana kita ketahui, doa menjadi salah satu bagian dari ibadah paling agung yang Allah perintahkan kepada hambanya.


    Hal ini selaras dengan firman Tuhan, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).


    Berangkat dari ayat tersebut menegaskan bahwa doa adalah perintah sekaligus janji, siapa saja yang berdoa, maka akan dikabulkan.


    Perintah ini berlaku untuk semua kalangan, bahkan bagi orang mukallaf yang melakukan dosa besar sekalipun.


    Dari kasus peristiwa seperti itu, Allah pun tetap menerima doa mereka, sebab rahmat-Nya lebih luas dari dosa manusia. Tidak ada tebang pilih, bagi Gusti Allah semua makhluk memiliki kadar, jatah masing-masing.


    Mengutip Wasiyatul Musthofa, pada pembahasan doa, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dawuh kepada Sayyidina Ali, berdoa diantara adzan dan iqomah, (dijanjikan) tidak akan ditolak doa dari seorang hamba. 


    Sehingga bagi diri ini perlu untuk memantapkan diri memohon, berdoa dan berharap, atau sekadar menyapa.


    Selaras dengan urusan doa pun, KH Ahmad Rifa'i pun pernah menuliskan dalam Kitab Thoriqoh,
    “Wong mukallaf gede dosa laku maksiatan
    tinarimo ugo dedungo ing Allah pengeran
    Mugo diusikno bechik ning kebatinan
    didohno saking sasar kadosan”


    Terjemahan, orang mukallaf yang bergelimang dosa sekalipun, doanya masih diterima oleh Allah. Doa yang dianjurkan adalah agar disibukkan dengan kebaikan dan dijauhkan dari jalan yang menyesatkan. Inilah bentuk kasih sayang Allah: pintu doa tidak pernah tertutup bagi siapa pun.


    Syarat Sah Berdoa


    Masih dalam sumber kitab yang sama menurut KH Ahmad Rifa’i, ada dua syarat sah berdoa, sebagaimana tertulis dalam kitab tersebut begini:


    “Syarat sah doa rong perkoro tinemune
    salah sawijine nenuwun ing Allah pengerane
    Kang halal mungguh syara’ pepanggerane
    Kapindo jazem ing Allah peparing nyatane”


    Meminta sesuatu yang halal menurut syariat.
    Doa tidak boleh ditujukan untuk hal yang haram, misalnya meminta kekayaan dari jalan maksiat, atau meminta pertolongan untuk berbuat zalim. 


    Doa harus sejalan dengan tuntunan syariat: memohon rezeki halal, ilmu yang bermanfaat, atau perlindungan dari dosa.


    Yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa.
    Keyakinan adalah ruh doa. Orang yang berdoa tanpa yakin, sama saja meragukan sebuah kekuasaan Allah.


    Kemudian KH Ahmad Rifa’i juga menjelaskan bahwa terdapat empat hal doa disebut mustajab baik secara waktu dikabulkan dan cara berdoa:


    Pertama, dikabulkan seketika (pinaringan sak hal).


    Ada doa yang langsung diijabah oleh Allah sesuai permintaan hamba-Nya.


    Kedua, dikabulkan dengan cara ditunda (tuwin kesemayanan).


    Gusti Allah memberi pada waktu yang tepat, bukan saat kita meminta. Penundaan ini yaitu  bentuk dari hikmah, sebab Gusti Allah lebih tahu kapan doa itu pantas diberikan.


    Ketiga, diganti dengan sesuatu yang lain (tinemu anane diliru peparingan).


    Kadang kita meminta sesuatu, tetapi Allah memberi ganti yang lebih baik. Sering kali kita tidak tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, tetapi Allah Maha Mengetahui.


    Hanya saja, ada hal perlu kita perhatikan adalah senantiasa berkhusnudzon atas apapun itu yang berasal dari Gusti Allah.


    Keempat, berdoa secara spesifik apa yang diminta (nujoni kang disuwun winestenan).


    Doa yang mustajab bukan doa yang terlalu umum.


    Kita dianjurkan berdoa dengan spesifik, tentu tidak sekadar “Ya Allah, beri aku kebaikan,” tetapi lebih rinci, misalnya “Ya Allah, beri aku ilmu yang bermanfaat, rezeki halal, kesehatan jasmani rohani.”


    Atau malah doa kita selain seperti doa yang motivasi dengan meminta yang spesifik dan harapan yang besar dan baik, ada juga sebuah istilah lain yaitu doa demotivasi.
    Jadi doa demotivasi ini mungkin terkesan remeh-temeh, namun sebenarnya juga bagian pengarapan yang tulus dan landasannya lebih Legawa hatinya.


    Kembali perihal doa ini, KH Ahmad Rifa’i juga menegaskan:

    “Iku patang perkoro mustajab doa ingaranan.”
    Melalui ajaran KH Ahmad Rifa’i dalam Kitab Thoriqoh, kita memahami bahwa doa adalah anugerah luar biasa.


    Doa bisa dipanjatkan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang bergelimang dosa. Menjadi kunci utama yaitu, memohon yang halal dan yakin akan dikabulkan.


    Sebelum memungkasi tulisan ini, menjadi catatan bersama khususnya untuk diri ini bahwa doa ini tidak selalu dikabulkan sesuai keinginan kita, namun bakal selalu sesuai dengan kebutuhan kita.


    Gusti Allah sendiri tentu bakal mengabulkan doa hambanya dengan cara-Nya: kadang langsung, kadang ditunda, kadang diganti, dan selalu dengan hikmah.


    Monggo sareng-sareng berdoa, mari kita berharap ngemis-ngemis kepada Tuhan yang maha Kaya, kalau kita memposisikan sebagai fakir, maka Tuhan yang Maha Kaya bakal memberikan 'shodaqoh' untuk diri kita ini yang fakir. Wallahu a'lam bishowab.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +