• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Kawruh Jiwa dan Seni Meniteni Rasa: Jalan Sederhana Menuju Ketenangan Hidup

    , 22.41 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Kawruh Jiwa dan Seni Meniteni Rasa: Jalan Sederhana Menuju Ketenangan Hidup
    Kawruh Jiwa dan Seni Meniteni Rasa: Jalan Sederhana Menuju Ketenangan Hidup.


    Wonosobo Media - Berada di tengah riuhnya modernisasi dan derasnya arus globalisasi, ada satu hal yang justru tetap diam, tidak ikut terbawa arus, tidak pula lekang dimakan zaman.


    Satu hal ini hidup tenang dalam kebudayaan Jawa: sebuah pemahaman tentang jiwa manusia yang lahir dari pengalaman hidup, dari laku batin, dari perenungan panjang, bahkan bukan dari ruang kelas atau laboratorium.


    Warisan itu bernama kawruh jiwa. Ajaran ini diperkenalkan oleh Ki Ageng Suryomentaram, seorang bangsawan yang justru memilih meninggalkan kemewahan keraton demi hidup sebagai rakyat biasa. 


    Keputusan itu bukan sekadar pilihan hidup, melainkan laku: jalan untuk memahami manusia secara jujur, tanpa jarak, tanpa sekat.


    Dari situ, Ki Ageng tidak datang membawa teori yang njelimet, tapi hanya mengajak satu hal yang sederhana, tapi jarang dilakukan: mendengarkan diri sendiri. Meniteni rasa. 


    Mengamati gerak batin dengan jujur, tanpa buru-buru menyimpulkan. Dalam kawruh jiwa, penderitaan manusia berakar pada sesuatu yang tampak sepele, tapi diam-diam mengikat: kepinginan.


    Kepinginan bukan sekadar keinginan biasa, ini adalah hasrat yang melekat, seperti ingin diakui, ingin dipuji, ingin dianggap penting. Sekilas tampak wajar, tapi jika tidak disadari, nantinya hal ini bisa berubah menjadi sumber kegelisahan yang tak ada ujungnya.


    Manusia jadi mudah merasa kurang. Apa pun yang dimiliki terasa belum cukup. Hidup berubah menjadi pengejaran panjang terhadap sesuatu yang, anehnya, tak pernah benar-benar selesai.


    Di titik ini, Ki Ageng tidak menyuruh kita memusuhi keinginan, tapi hanya mengajak kita mengenalinya. Sebab sering kali, yang membuat hidup berat bukanlah dunia di luar sana, melainkan cara kita memaknai dan “memiliki” sesuatu.


    Seseorang bisa merasa memiliki banyak hal, seperti anak, jabatan, pendapat, bahkan keyakinan. Tapi dari rasa memiliki itu muncul ketakutan: takut kehilangan, takut salah, takut tidak dianggap, di situlah batin mulai sempit.


    Sebaliknya, ketika seseorang mulai melihat bahwa tidak semua harus dimiliki sepenuhnya, ada kelonggaran yang pelan-pelan muncul. Hidup terasa lebih ringan. Lebih lapang. Lebih merdeka.


    Dalam lanskap pemikiran ini, “rasa” menjadi pusat dari segala hal. Tapi rasa di sini bukan sekadar emosi. Hal ini adalah kesadaran halus cara manusia menangkap makna di balik peristiwa.


    Karena itu, kawruh jiwa tidak berjalan lewat logika semata. Ia menempuh jalan yang lebih sunyi: laku, keheningan, dan kejujuran batin.


    Salah satu laku yang diajarkan adalah meniteni rasa, mengamati sebuah perasaan dengan pelan, tanpa reaksi tergesa. Ketika marah, misalnya, kita tidak langsung meluap. Kita berhenti, lalu bertanya: “Aku ini sedang kenapa? Ingin dimengerti? Ingin menang sendiri?”


    Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, jika dijalani dengan jujur, bisa membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi: diri kita sendiri.


    Bukan diri yang tampak di depan orang lain, tapi diri yang diam-diam menggerakkan pikiran, emosi, dan keputusan.


    Nilai-nilai kawruh jiwa terasa akrab dalam laku hidup orang Jawa: tepa selira, eling lan waspada, hingga nrimo ing pandum. Tapi semua itu bukan ajakan untuk pasrah tanpa daya.


    Justru sebaliknya, lewat ajaran Ki Ageng ini mengajak manusia untuk jujur terhadap kenyataan, tanpa kehilangan kehendak untuk berusaha. Menerima bukan berarti menyerah, melainkan memahami batas antara yang bisa diubah dan yang harus dihadapi.


    Ketenangan, dalam pandangan ini, tidak lahir dari keberhasilan menguasai dunia luar, sebab tumbuh dari kemampuan memahami dunia dalam.


    Ki Ageng juga mengajak kita mengenali rasa-rasa yang sering luput disadari: rasa salah, rasa dosa, dan rasa takut. 


    Dalam masyarakat yang menjunjung harmoni, rasa-rasa ini kadang tumbuh berlebihan, sekadar berbeda pendapat pun bisa memunculkan rasa bersalah.


    Namun, rasa itu sendiri tidak salah, sebab yang menjadi persoalan adalah ketika kita tidak mengenali asalnya. Ketika rasa itu menguasai, tanpa pernah kita pahami.


    Maka, kawruh jiwa tidak menghapus rasa dengan mengajak kita berkenalan dengannya.


    Di tengah dunia hari ini yang penuh kebisingan dari informasi, tuntutan citra, hingga kejaran pencapaian ajaran seperti ini terasa semakin relevan. 


    Banyak orang terlihat “baik-baik saja”, tapi di dalamnya rapuh. Banyak yang sibuk, tapi tidak tahu sedang menuju ke mana.


    Kawruh jiwa tidak menawarkan jalan cepat, tetapi sekadar memberi arah yaitu pulang kepada rasa dalam diri ini.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid