![]() |
Kepungan Lebaran: Saat Nasi Ambengan Menyatukan Maaf dan Kebahagiaan. |
Wonosobo Media - Momentum Lebaran Idulfitri menjadi salah satu yang bisa dianggap bagian dari perjumpaan yang khas dan dinantikan di langgar lawas satu ini.
Selepas sholat id, para warga sekitar dan jemaah mushola melingkar, meluangkan waktu untuk berkumpul dengan para warga lainnya.
Tentu harapan maaf-maafan menjadi bekal utama. Bekal lahiriahnya ya berupa nasi Ambengan yang ditata disebuah wadah nampan untuk kudapan bersama.
Gema takbir menyertai, tidak lupa sholawat dan bacaan tahlil, kalimah toyyibah dirapal, bagian dari bukti bakti kirim dungo kepada para keluarga yang telah sowan Gusti Allah, para leluhur semua.
Setelah selesai, disambung dengan salam-salaman wujud dari ikrar dan melepas sebuah ego, hanya harapan memohon maaf kepada sanak keluarga hingga warga sekitar rumah, hingga dipungkasi dengan acara inti: kepungan.
Kepungan atau menikmati kudapan dari ubo rampe tadi yang dibawa, ada yang memakai piring ada yang pakai nampannya dan dinikmati bareng-bareng, nah ini kepungan yaitu kepung bareng menikmati nasi ambengan tadi.
Sembari menikmati sajian, banyak obrolan muncul, celetukan-celetukan guyonan gayeng, tidak ada sekat dan jarak semua lebur jadi satu, tua muda saling mengisi lini tidak ada canggung, yang ada hanyalah luapan ampunan dan harapan, doa mumpung momentum Idulfitri yang kita langitkan bersama-sama.
Nah ini gambaran kecil dari sebuah peristiwa di langgar lawas, yang sejak dahulu masih terus diuri-uri dan bagian dari kebahagiaan tersendiri ketika masuk bulan Syawal.
Kemesraan dalam kebahagiaan sesederhana ini, sebagaimana kutipan Ki Ageng Suryomentaram pernah menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi dalam maknanya:
“Sejatine becik, becik mardika tur gawe begja iku, tuk-e aneng telenging suwarga pangapura.”
Kurang lebih, bahwa kebaikan yang sejati kebaikan yang membebaskan dan menghadirkan kebahagiaan, yang bersumber dari kedalaman “surga” bernama maaf.
Pada titik inilah, Lebaran seolah menemukan maknanya yang paling dalam dalam relung batin.

