![]() |
| Ki Ageng Suryomentaram dan Makna dari Bahagia yang Tak Pernah Ajeg |
Wonosobo Media - Ada satu potret jujur tentang diri manusia kita sering hidup dalam kejar-kejaran yang tak pernah selesai—mengejar apa yang diinginkan, dan menolak apa yang tidak disukai. Tapi, anehnya keduanya sering tidak benar-benar membawa kita ke mana-mana.
Wejangan dari Ki Ageng Suryomentaram ini menggambarkannya dengan sangat jernih: “Manungsa angenthu-enthu anggoleki utawa anyeri-nyeri nampik.”
Manusia terus-menerus mengejar dan mencari, sekaligus bersungguh-sungguh menolak dan menghindari.
Bahwa hidup kita hampir selalu bergerak di dua arah: ingin mendapatkan sesuatu, dan ingin menjauh dari sesuatu. Kita mengejar kebahagiaan, sekaligus menghindari kesedihan. Tapi dua gerak ini justru membuat kita terus berputar, tidak pernah benar-benar berhenti.
Apa yang Dikejar, Tak Pernah Benar-Benar Membahagiakan
“Apa kang dienthu-enthu digoleki, iku yen katurutan (kalakon) ora marakake begja. Ya, mung bungah sadhelet, banjur susah.”
Apa yang dikejar-kejar, ketika tercapai, ternyata tidak benar-benar membuat bahagia. Hanya senang sebentar, lalu kembali susah.
Sering kita berpikir, “Kalau ini tercapai, aku pasti bahagia.” Tapi kenyataannya, setelah tercapai, rasa itu cepat sekali hilang, yang tersisa justru keinginan baru atau bahkan kekosongan yang sulit dijelaskan.
Apa yang Dihindari, Tak Selalu Membawa Celaka
“Apa kang diceri-ceri ditampik, iku yen kalakon, ora marakake cilaka. Ya, mung susah sadhèlèt, banjur bungah.”
Apa yang kita hindari, ketika benar-benar terjadi, ternyata tidak selalu membawa celaka. Hanya susah sebentar, lalu kembali bungah.
Hal-hal yang kita takutkan sering terasa besar dalam pikiran. Namun saat benar-benar terjadi, ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Bahkan sering kali, setelah melewati kesedihan, muncul ketenangan baru.
Cara Berpikir yang Keliru Sejak Awal
“Nalika manungsa duwe karêp, iku duwe panêmu:
Yèn karepe iku kalakon, mesthi begja banget, utawa duwe pangerti bungah sajege. Yèn karêpe iku ora kalakon, mesthi cilaka banget, utawa duwe pangerti susah sajege.”
Ketika manusia punya keinginan, ia punya anggapan: jika keinginannya tercapai, ia akan sangat bahagia selamanya. Jika tidak tercapai, ia akan sangat menderita selamanya.
Berangkat dari sinilah akar masalahnya: kita sering melebih-lebihkan. Kita membayangkan kebahagiaan itu abadi jika keinginan tercapai, dan penderitaan itu permanen jika gagal. Padahal, kenyataan tidak sesederhana itu.
“Panemu kang mangkono mau tetela kliru: Wis pirang-pirang karêp kang kalakon, ora begja ora begja. Ya, mung bungah sadhelet, banjur susah maneh.
Wis pirang-pirang karep kang ora kalakon, ora cilaka ora cilaka. Ya, mung susah sadhelet, banjur bungah maneh.Wis saprana-saprene ora tau utawa ora ana bungah tanpa susah, susah tanpa bungah.”
Anggapan itu jelas keliru, sudah berkali-kali keinginan tercapai, tapi tidak membuat bahagia selamanya. Hanya sebentar, lalu susah lagi.
Sudah berkali-kali keinginan gagal, tapi tidak membawa celaka selamanya. Hanya sebentar, lalu bungah lagi. Tidak pernah ada kebahagiaan tanpa kesedihan, dan kesedihan tanpa kebahagiaan.
Hidup memang tidak pernah satu warna. Senang dan sedih selalu datang berpasangan. Yang kita anggap “puncak kebahagiaan” ternyata hanya fase singkat. Begitu juga “puncak kesedihan”, tidak pernah benar-benar menetap.
Dari sini, kita diajak untuk sedikit mengubah cara pandang.
Mungkin, masalahnya bukan pada apa yang kita kejar atau hindari, tetapi pada cara kita memaknai keduanya. Kita terlalu yakin bahwa sesuatu akan membuat kita bahagia selamanya, atau sebaliknya, menghancurkan kita selamanya.
Padahal, hidup selalu bergerak, yang datang akan pergi, perihal yang membuat bungah akan berganti, nantinya yang terasa susah pun akan berlalu.
Hingga di antara semua itu, manusia hanya sedang belajar bahwa tidak semua yang dikejar perlu dikejar mati-matian, dan tidak semua yang ditakuti benar-benar harus ditakuti, sak madya wae.

