• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Rukun Islam dan Dua Kalimat Syahadat: Perspektif KH Ahmad Rifa’i dalam Pandangan Ahlus Sunnah

    , 22.01 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Rukun Islam dan Dua Kalimat Syahadat: Perspektif KH Ahmad Rifa’i dalam Pandangan Ahlus Sunnah
    Rukun Islam dan Dua Kalimat Syahadat: Perspektif KH Ahmad Rifa’i dalam Pandangan Ahlus Sunnah.


    Wonosobo Media - Ajaran KH Ahmad Rifa’i tentang rukun Islam yang bertumpu pada dua kalimat syahadat ternyata tidak berdiri sendiri. 


    Dalam khazanah Ahlus Sunnah, kita juga menemukan penjelasan yang selaras: bahwa pijakan keislaman seseorang terletak pada pengakuan syahadat.


    Begini kutipannya:


    الإسلام هو النطق بالشهادتين فقط، فمن أقرهما أجريت عليه أحكام الإسلام في الدنيا، ولم يُحكم عليه بكفر إلا بظهور أمارات التكذيب


    Islam adalah pengucapan dua kalimat syahadat saja. Siapa pun yang telah mengucapkannya, maka hukum-hukum Islam berlaku atas dirinya di dunia. 


    Ia tidak boleh dihukumi kafir kecuali jika menampakkan tanda-tanda pendustaan, seperti bersujud kepada benda, patung, menghina Nabi, mushaf, Ka’bah, dan sejenisnya.


    Penegasan ini menunjukkan bahwa standar keislaman secara lahiriah memang berpijak pada syahadat.


    Penegasan Syekh Al-Bajuri


    Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah Tuhfah al-Murid menegaskan dengan kalimat yang ringkas namun tegas:


    فعلى كل حال مدار الإسلام على النطق بالشهادتين


    Pada prinsipnya, Islam berpijak pada pengucapan dua kalimat syahadat.


    Artinya, selama seseorang telah mengucapkannya, ia diperlakukan sebagai Muslim dalam hukum dunia.


    Iman di Hati, Amal sebagai Penyempurna


    Islam berkaitan dengan pengakuan lahiriah, sedangkan iman bersemayam di dalam hati. Seseorang disebut mukmin apabila ia membenarkan ajaran Nabi saw. dalam batinnya.


    Namun iman tidak berhenti di sana. Amal saleh adalah penyempurna iman. Karena itu, Al-Qur’an berulang kali menyandingkan iman dan amal saleh. 


    Kuat atau lemahnya amal menjadi cermin kuat atau lemahnya iman.


    Dalam sebuah kitabnya KH Ahmad Rifa’i menyebutkan begini:

    "Shahe iman hasil akhirat kabegjan,

    Iku muhun pangistu jazem ning kebatinan.

    Senadiyan sineksa lawas ning neraka,

    Sebab ngekalaken luih gede duraka.

    Pun langgeng urip mulya dalem suwargo,

    Sebab berkate sahhe iman belaka."


    Tulisan KH Ahmad Rifa'i tersebut menegaskan bahwa iman yang sah menjadi sebab keselamatan akhirat, meski seseorang sempat tersiksa karena dosa-dosanya.


    Sementara itu dalam hadits panjang tentang syafaat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud, disebutkan bahwa setelah para malaikat, nabi, dan orang-orang mukmin memberi syafaat, Allah berfirman:


    Para malaikat telah memberi syafaat, para nabi telah memberi syafaat, dan orang-orang mukmin telah memberi syafaat. Kini tersisa Dzat Yang Maha Penyayang.


    Lalu Allah menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan suatu kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. 


    Mereka telah hangus, kemudian dilemparkan ke sungai kehidupan di pintu surga, lalu tumbuh kembali seperti biji yang tumbuh setelah terbawa arus.


    Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki iman, meski tanpa amal, tetap tidak kekal di neraka. Namun terdapat penjelasan penting dari para ulama.


    Penjelasan Imam Nawawi dan Qadhi Iyadh


    Imam Nawawi mengutip keterangan Qadhi Iyadh:


    Mereka adalah orang-orang yang hanya memiliki iman semata. Mereka tidak diizinkan mendapat syafaat. 


    Atsar-atsar menunjukkan bahwa syafaat diberikan kepada orang yang memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar iman, yakni amal.


    Artinya, orang yang hanya memiliki iman tanpa amal tidak mendapat syafaat dari para nabi atau orang mukmin. 


    Mereka langsung dikeluarkan oleh Allah dengan rahmat-Nya sendiri.


    Lahir dan Batin: Dua Sisi Keislaman


    Ada pula kondisi sebaliknya. Seseorang yang mengucapkan syahadat secara lahiriah tetapi tidak membenarkannya dalam hati, maka di mata manusia ia Muslim, tetapi di sisi Allah ia kafir. 


    Hal semacam inilah yang disebut munafik. Jika tidak bertobat, yaitu dengan l membenarkan syahadat dalam hatinya maka disebutkan bakal terancam kekal di neraka.


    Dengan demikian, syahadat adalah gerbang Islam secara lahiriah. Keyakinan hati adalah inti iman. Amal adalah penyempurna dan penguatnya.


    Keseluruhan penjelasan ini memperlihatkan keselarasan antara ajaran KH Ahmad Rifa’i dan pandangan ulama Ahlus Sunnah.


    Bahwa poros keislaman adalah dua kalimat syahadat, dan menjadi dasar penetapan hukum di dunia, sementara iman dan amal menentukan derajat dan keselamatan di akhirat. Wallahu a’lam bishawab.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +