![]() |
| Kiai Sadrach, Ilmu Kanoman, dan Dunia Mistisisme Jawa |
Wonosobo Media - Berada di Jawa Tengah, istilah “Kiai” kadang juga dipakai untuk menyebut benda-benda yang dianggap memiliki tuah, seperti kebo bule keraton atau pusaka tertentu. Jadi sebenarnya, soal penyebutan “Kiai Sadrach” bukan hal yang terlalu aneh. Tradisi Jawa memang lentur dalam memberi gelar penghormatan.
Bahkan sering jadi persoalan justru klaim bahwa Sadrach adalah lulusan pesantren. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, jejak itu tidak benar-benar kuat. Poinnya sederhana, jika memang tidak pernah nyantri secara jelas dan mendalam, ya jangan buru-buru disebut produk pesantren.
Ketika menelusuri kembali buku karya Claude Guillot berjudul Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa, terdapat kemungkinan salah paham itu berasal dari satu catatan yang disebut Guillot sebagai “buku pesantren”.
Di rumah peninggalan Sadrach di Karangjoso memang ditemukan banyak buku dan catatan. Namun hanya ada satu naskah yang membahas Islam, ditulis dalam bahasa Arab dan Jawa Pegon.
Isinya cukup beragam: mulai dari nama-nama malaikat, sebutan Allah yang mirip Asmaul Husna, silsilah raja-raja Islam Jawa, hingga dialog mistik antara Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang tentang alam kubur.
Karena di keluarga Sadrach hanya dirinya yang pernah bersentuhan dengan dunia pesantren, catatan itu kemudian dianggap miliknya. Padahal Guillot sendiri mengakui bahwa ia tidak punya bukti kuat bahwa naskah tersebut benar-benar ditulis oleh Sadrach.
Menariknya lagi, sosok guru yang banyak dikagumi Sadrach justru bukan berasal dari kalangan pesantren besar, melainkan seorang tokoh bernama Pak Kurmen atau Sis Kanoman. Nama “Kanoman” ini terasa khas dalam tradisi ilmu Jawa.
Jika kita menilik atau pernah mendengar dalam ngaji bersama Fahruddin Faiz kita akan tak asing, melalui beberapa penjelasan tentang laku spiritual Jawa, Pak Faiz membeberkan beberapa tahapan ilmu, ada tingkatan-tingkatan ilmu: mulai dari ilmu kanoman, lalu kanuragan, kadonyan, kasepuhan, hingga kasampurnan.
Kalau melihat perjalanan hidup Sadrach, tampaknya ia lebih dekat dengan tradisi pengembaraan ilmu model Jawa ketimbang pendidikan pesantren yang mapan.
Setelah belajar pada Sis Kanoman, ia disebut mengembara ke Jombang dan Ponorogo. Dugaan kuatnya, fase itu adalah pencarian ilmu kanuragan, ilmu yang bukan hanya menekankan pengetahuan, tapi juga ranah spiritual-kesaktian dan ketahanan diri.
Hal itu terlihat dari cara Sadrach menghadapi banyak “kiai” pada masanya. Ia bukan cuma beradu argumen, tetapi juga adu kesaktian. Corak seperti ini lebih dekat dengan tradisi spiritual-kejawen dibanding tradisi intelektual pesantren pada umumnya.
Bahkan pada masa tuanya, hubungan Sadrach dengan gereja Belanda juga tidak selalu mulus. Ia sempat dilarang melayani umat sebab dianggap masih membawa praktik-praktik klenik.
Salah satu yang sering disebut adalah kebiasaannya menjual keris yang dipercaya sudah “diisi” atau memiliki tuah kepada para pengikutnya.
Dari sini, sosok Sadrach tampaknya memang lebih tepat dibaca sebagai pengembara spiritual Jawa yang kemudian bertemu Kristen, bukan sebagai kiai pesantren dalam pengertian yang umum dipahami hari ini.
Jika kembali sedikit mengulas terkait dengan ilmu kanoman, istilah Kanoman ini adalah fase pembelajaran spiritual ala kebatinan. Pada fase itu pengikut belajar ilmu yang bersifat kanuragan.
Setelah itu baru naik belajar ilmu kasepuhan yang menitik beratkan masalah ketuhan, penyucian diri, pemahaman sangkan paraning dumadi, kembali kepada Tuhan, mengambil istilah bahasa arabnya ada Tazkiyatun Nafs-penyucian diri untuk menggali diri menemukan Tuhan.

