![]() |
| Mengkaji Kitab KH Ahmad Rifa’i dan Warisan Keilmuan Membuka Cara Pandang. |
Wonosobo Media - Salah satu bagian dari bentuk keberkahan adalah dipertemukan dengan suatu hal, entah benda atau momentum apa. Kebetulan yang ada pada postingan kali ini adalah salah satu manuskrip yang diwariskan oleh sang guru bangsa, KH Ahmad Rifa’i.
Entah ini berupa salinan kitab atau fotocopy-an namun yang menjadi menarik dibalik itu adalah isinya: berupa keilmuan yang mendalam dan luas dalam bersikap.
Meski tahapannya ini masih urusan ushuluddin atau malah ranah fiqh, namun tidak menjadi hambatan.
Siapa tahu kita membaca-mengkaji kitab atau manuskrip ini dahulu, nanti aka nada masanya datang manuskrip lainnya dari karya KH Ahmad Rifa’I yang lebih dari pembahasan yang telah disinggung di awal.
Seperti halnya kita ketahui bersama, KH Ahmad Rifa’i berjuang melawan penjajah dengan perlawanan bentuk karya, menuliskan pemahaman tentang agama dengan Bahasa yang sederhana, mudah diterima oleh masyarakat zaman dahulu.
Dari pola pendekatan syiiran, nadzom hingga tembang menjadi cara yang dapat melekat dan dihafalkan hingga diterapkan untuk pijakan kehidupan sehari-hari.
Perlawanan melalui teks syiir yang sederhana, membawa perlawanan. Misalnya ada Nazam Tarekat, tidak hanya berbicara urusan keimanan, pasrah, ikhlas, sabar dan segala referensi wawasan tasawuf lainnya.
Namun ada gerakan yang dapat memantik para santri-murid Mbah Rifa’I untuk membela Tanah Air.
Disebutkan salah satu warga Rifaiyah ketika dijumpai di suatu tempat, yang kebetulan sedang berdagang di pasar.
Pertemuan tidak direncakan itu pun serba ndilalah, dan ini adalah fadhilah atau anugerah yang tidak disangka-sangka.
Sekadar membeli sesuatu, dapatlah pengalaman berharga yang tidak disangka-sangka, menceritakan pengalaman persinggungan dengan karya kitab KH Ahmad Rifa’I yang beragam.
Ia meceritakan pula betapa pentingnya membaca, mengaji-mengkaji karya KH. Ahmad RIfa’I untuk bekal dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi ketika kita sedang mengaji, nantinya bakal terasa diri kita ini semakin butuh dan terlihat bodoh sebenarnya.” Ujar Triyono menyelingi ceritanya.
Ketika saya sesekali bertanya dan menceritakan tentang persinggungan dengan kitab Mbah Rifa’I, ia mengamini dan memberi dukungan, “sambil ngaji kitabnya Mbah RIfa’I sekalian mas..” Imbuhnya.
Menurutnya masih ada sampai sekarang ini kitab KH. Ahmad RIfa’I masih dikaji dengan intens, tidak memandang berapa pun orang yang mengikuti sehingga masih optimis satu dua kitab masih bertahan diulas.
Ia juga menambahkan dengan mengaji sendiri pemikiran dan cara kita bersikap pun menjadi luas dan terbuka, tidak ada satu sudut pandang belaka, namun banyak sisi yang dapat kita gali. Tidak langsung memvonis bahwa si A kurang tepat, si B ngawur dsb.
Tetapi melalui mengaji ini kita dapat mengolah hati dan mengolah pikiran menjadi orang yang lebih legawa, ada banyak sisi yang perlu kita ketahui terus-menerus.

