![]() |
| Pethukan dan Roso Sejati: Sebuah Jalan Mengenali Diri ala Ki Ageng Suryomentaram |
Wonosobo Media - Dalam khazanah pemikiran Jawa, nama Ki Ageng Suryomentaram menempati posisi yang unik.
Ki Ageng Suryomentaram bukan sekadar tokoh spiritual belaka, tetapi juga seorang pemikir psikologi pribumi yang merumuskan apa yang ia sebut sebagai Kawruh Jiwa atau ilmu tentang mengenali diri secara jujur dan apa adanya.
Salah satu konsep Ki Ageng Suryomentaram yang jarang dibahas, namun justru sangat mendasar, adalah pethukan.
Secara sederhana, pethukan berarti “pertemuan”. Namun dalam kerangka Kawruh Jiwa, pethukan bukan sekadar perjumpaan antar manusia, melainkan pertemuan manusia dengan dirinya sendiri, dengan rasa, keinginan, dan kesadaran batin yang paling dalam.
Pada titik inilah muncul pertanyaan penting: bagaimana membedakan “roso sejati” dengan rasa yang masih tercampur ego?
Kerangka Kawruh Jiwa: Rasa, Kepinginan, dan Kesadaran
Diketahui, ketika kita membaca pemikiran Ki Ageng Suryomentaram, sebenarnya manusia tidak pernah lepas dari tiga hal utama:
Rasa (roso) yaitu apa yang dirasakan secara batin
Kepinginan (keinginan) yaitu dorongan untuk memiliki, menguasai, atau menjadi.
Kesadaran (eling) yaitu kemampuan melihat diri sendiri secara jernih.
Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, ketiganya sering bercampur. Apa yang kita anggap “rasa” sering kali sebenarnya adalah keinginan yang menyamar.
Sehingga para posisi seperti inilah pentingnya pethukan ala Ki Ageng Suryomentaram menjawab hal itu.
Momen ketika kita berhenti, lalu benar-benar melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Roso Sejati: Tidak Butuh Pembenaran
Tentu kita dapat memulai memaknai sebuah roso sejati dengan sebuah tahapan yang digambarkan memiliki ciri yang relatif konsisten:
Tidak tergesa-gesa
Tidak ingin menang sendiri
Tidak bergantung pada pengakuan orang lain
Muncul tanpa paksaan
Ketika kita mencoba pada tahapan Roso sejati ini justru menghadirkan rasa legowo (penerimaan).
Pemaknaan ini tidak sekadar pasrah tanpa arah, tetapi menerima dengan kesadaran penuh.
Hal ini bisa kita selaraskan dalam konteks Kawruh Jiwa, yaitu dekat dengan kondisi “ora kagetan, ora gumunan” atau tidak mudah terombang-ambing oleh situasi luar.
Ego: Cepat, Gelisah, dan Ingin Menguasai
Sementara sebaliknya, rasa yang masih dipengaruhi ego dalam diri kita ini memiliki pola yang bisa dikenali:
Mulai dari ingin segera mengambil keputusan
Cenderung membenarkan diri sendiri
Ada dorongan untuk mengontrol keadaan
Mudah tersulut ketika tidak sesuai harapan
Nah, secara psikologis, ini juga nyambung lagi dengan apa yang dalam Kawruh Jiwa disebut sebagai “kepinginan sing ora rampung” (keinginan yang terus menuntut pemenuhan).
Akibatnya, batin menjadi tidak stabil. Apa pun yang dilakukan terasa belum selesai, belum cukup.
Bisa dibilang, Ki Ageng Suryomentaram tidak mengajarkan teori abstrak semata, tetapi ia menekankan pengamatan langsung terhadap pengalaman hidup dalam diri masing-masing.
Salah satu indikator paling jujur adalah dampak setelah mengambil sikap, misalnya jika hasilnya adem, ringan, tidak menyisakan beban, itu mendekati roso sejati.
Jika yang muncul sumpek, gelisah, atau penyesalan berulang, itu tanda masih ada ego atau bisa juga masuk pada tuntutan nafsu diri.
Pendekatan ini mirip dengan metode observasi dalam psikologi modern, tetapi dengan basis pengalaman batin yang lebih personal.
Menariknya lagi, dalam Kawruh Jiwa ini tidak ada klaim “sudah selesai”. Pethukan bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.
Gonjang-ganjing atau bolak baliknya hati atau pikiran kita pun lumrah, pada hari ini seseorang bisa merasa jernih, besok bisa kembali terjebak dalam ego.
Karena itu, Ki Ageng Suryomentaram menekankan pentingnya:
Senantiasa Eling (kesadaran terus-menerus), kemudian jujur pada diri sendiri serta tidak menutupi rasa yang sebenarnya.
Atau jika diterjemahkan dalam bahasa sederhana:
bukan soal menjadi paling benar, tapi mampu melihat diri sendiri dengan benar.
Sehingga di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan pembenaran, laku pethukan ini terasa semakin asing.
Kita lebih mudah menilai orang lain, daripada duduk sejenak dan bertanya ke roso kita sendiri, bahwa sebenarnya ini benar-benar roso atau hanya ego yang sedang mencari pembenaran?
Barangkali di situlah letak pentingnya pemikiran ini hari ini. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk pelan-pelan mengenali diri.
Hingga ketika menentukan setiap keputusan tidak lagi lahir dari kegelisahan, melainkan dari kejernihan yang sederhana.

