![]() |
| Satu Suro: Tradisi Jawa yang Mengajarkan Seni Menepi |
Wonosobo Media - Berada di tengah dunia yang semakin bising, orang Jawa sejak lama memiliki satu malam untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk apapun, yaitu sebuah malam yang disebut Satu Suro.
Banyak orang mengenalnya melalui cerita-cerita mistis: larangan menggelar hajatan, kisah tentang pusaka yang dimandikan, atau kepercayaan untuk tidak bepergian jauh.
Namun, jika hanya berhenti pada lapisan itu, kita mungkin kehilangan makna terdalam dari Satu Suro. Bagi masyarakat Jawa, Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Pada bulan ini bisa menjadi momentum untuk melakukan mawas diri, menengok kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, sekaligus menata langkah untuk hari-hari berikutnya.
Tradisi ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Pada masa Sultan Agung Mataram, kalender Jawa disusun dengan menggabungkan unsur penanggalan Jawa kuno dan kalender Hijriah.
Dari sinilah bulan Suro, yang bertepatan dengan Muharam dalam Islam, memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Tidak mengherankan jika berbagai daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya Satu Suro. Ada yang mengadakan tirakatan, berdoa bersama, berjalan mengelilingi benteng keraton dalam keheningan, hingga melakukan berbagai ritual adat yang diwariskan turun-temurun.
Meski bentuknya berbeda-beda, tujuan yang ingin dicapai sebenarnya serupa: memohon keselamatan, ketenteraman, dan kejernihan hati.
Dalam falsafah Jawa, terdapat ungkapan eling lan waspada. Eling berarti senantiasa ingat kepada Tuhan serta menyadari bahwa manusia memiliki banyak keterbatasan. Adapun waspada mengajarkan pentingnya berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Dua nilai itu terasa semakin relevan pada masa kini. Ketika segala sesuatu bergerak cepat dan orang berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, ada kalanya kita perlu mengambil jarak.
Bukan untuk menyerah, melainkan untuk memastikan bahwa arah yang kita tempuh memang sesuai dengan tujuan hidup yang diyakini.
Mungkin inilah inti dari Satu Suro yang sering terlupakan. Ia bukan malam untuk menumbuhkan ketakutan, melainkan kesempatan untuk merawat kesadaran.
Saat untuk berdamai dengan diri sendiri, mengakui kekurangan, serta memperkuat hubungan dengan sesama dan Sang Pencipta.
Sebab hidup tidak selalu tentang berlari tanpa henti. Ada waktunya untuk berhenti, menata napas, lalu bertanya dengan jujur: apakah selama ini kita sudah berjalan di jalan yang tepat?
Di tengah gegap gempita berbagai perayaan tahun baru, Satu Suro menawarkan cara yang berbeda. Tidak dengan pesta yang meriah, tetapi melalui keheningan yang penuh makna. Barangkali, justru dalam keheningan itulah manusia dapat mendengar suara hatinya dengan lebih jelas.

