• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Tiga Tahun Meninggalkan PSIS, Alumni UMP Ini Masih Menyimpan Kenangan sebagai Dokter Tim Mahesa Jenar

    , 11.43 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia

     

    Tiga Tahun Meninggalkan PSIS, Alumni UMP Ini Masih Menyimpan Kenangan sebagai Dokter Tim Mahesa Jenar
    Tiga Tahun Meninggalkan PSIS, Alumni UMP Ini Masih Menyimpan Kenangan sebagai Dokter Tim Mahesa Jenar

    Wonosobo Media - Bagi sebagian orang, sepak bola hanya tentang gol-gol indah, selebrasi kemenangan, atau gegap gempita tribun stadion. 


    Namun, di balik hiruk pikuk pertandingan, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan demi memastikan para pemain tetap bisa berdiri dan kembali bertanding.


    Salah satunya adalah dr. Mufida Rizqiyani Husna. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu pernah menjadi bagian dari tim medis PSIS Semarang pada musim kompetisi 2022/2023. 


    Pada saat itu, wajahnya kerap muncul di layar televisi ketika berlari cepat memasuki lapangan untuk memberikan pertolongan kepada pemain yang mengalami cedera.


    Bagi pendukung Mahesa Jenar, sosok perempuan asal Kendal tersebut bukan nama asing. Kehadirannya bahkan sempat mencuri perhatian sebab dunia sepak bola profesional masih sering dipandang sebagai ruang yang didominasi laki-laki.


    Namun, di balik sorotan kamera dan perhatian publik, tersimpan cerita tentang dedikasi yang tidak sederhana dari satu sosok ini.


    Berawal dari Ketertarikan pada Dunia Atlet


    Ketertarikan Mufida terhadap dunia olahraga sebenarnya telah tumbuh sejak masih menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran UMP. 


    Saat menyusun tugas akhir, ia memilih meneliti kehidupan atlet, terutama terkait kondisi psikologis menjelang pertandingan.


    Selepas menyelesaikan pendidikan, Mufida sempat menjalani profesi dokter di rumah sakit. Aktivitas di ruang gawat darurat dan bangsal perawatan memberinya banyak pengalaman, tetapi di sisi lain ia juga mencari tantangan baru.


    Kesempatan itu datang pada 2022 ketika dirinya dipercaya bergabung dengan tim medis PSIS Semarang. Menjadi dokter olahraga, menurutnya, menawarkan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan praktik kedokteran pada umumnya. 


    Selain menangani kondisi kesehatan atlet, ia juga harus mendampingi tim ke berbagai daerah untuk menjalani pertandingan.


    "Menjadi dokter olahraga membuat mobilitas lebih luas. Bisa bertemu banyak orang dan menghadapi tantangan yang berbeda setiap hari," kenangnya, Selasa (16/6/2026).


    Lebih dari Sekadar Berlari ke Tengah Lapangan


    Bagi penonton, tugas dokter tim mungkin tampak sederhana: berlari menuju pemain yang terkapar di lapangan.


    Padahal, dalam hitungan detik, seorang dokter harus mampu mengambil keputusan penting. Mereka dituntut menganalisis jenis cedera, menilai tingkat keparahannya.


    Hingga menentukan apakah pemain masih aman untuk melanjutkan pertandingan atau justru harus segera ditarik keluar.


    Keputusan tersebut tidak bisa diambil sembarangan. Kesalahan kecil dapat berdampak besar terhadap kondisi fisik bahkan perjalanan karier seorang atlet. Oleh sebab itulah, ketelitian dan ketenangan menjadi bekal utama bagi seorang dokter tim.


    Melawan Keraguan dengan Profesionalisme


    Perjalanan Mufida di dunia sepak bola juga tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah menghadapi keraguan dari sebagian pihak yang mempertanyakan kemampuan perempuan dalam lingkungan olahraga profesional.


    Ada anggapan bahwa tugas dokter tim hanya sebatas memberikan pertolongan singkat saat pertandingan berlangsung.


    Mufida memilih menjawab pandangan tersebut melalui kerja nyata. Sebab, ketika pertandingan usai dan stadion mulai sepi, pekerjaan tim medis justru sering kali belum berakhir.


    Ia pernah harus memberikan penanganan kepada pemain pada tengah malam. Beberapa jam kemudian, saat fajar menyingsing, dirinya sudah kembali mendampingi sesi latihan pagi bersama skuad PSIS.


    "Pelayanan kepada atlet itu hampir 24 jam," ungkapnya.


    Tak hanya menangani cedera di lapangan, ia juga mengawal proses pemulihan pemain melalui berbagai pemeriksaan lanjutan, seperti MRI, CT scan, hingga konsultasi dengan dokter spesialis.


    Kenangan yang Tak Pernah Hilang


    Kini, tiga tahun setelah meninggalkan PSIS Semarang, Mufida memilih melanjutkan karier di bidang estetika.


    Meski telah menapaki jalan profesi yang berbeda, kenangan selama mendampingi Mahesa Jenar tetap tersimpan erat.


    Bukan soal popularitas atau momen ketika dirinya tampil di layar televisi. Hal yang paling membekas justru kedekatannya dengan para suporter.


    Hingga saat ini, ia masih kerap disapa oleh pendukung PSIS ketika bertemu di berbagai kesempatan. Bagi Mufida, sapaan sederhana itu menjadi pengingat bahwa pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu meninggalkan jejak.


    "Di mana pun saya berada, selalu ada yang menyapa. Rasanya seperti memiliki banyak saudara," tuturnya. 


    Kisah dr. Mufida Rizqiyani Husna menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya milik mereka yang berlaga di atas rumput hijau. 


    Ada banyak tangan yang bekerja di balik layar, menjaga para pemain tetap bugar dan siap bertanding.


    Bagi Mufida, perjalanan singkat bersama PSIS Semarang bukan sekadar catatan karier. Ia telah menjadi bagian dari kisah hidup yang akan terus dikenang, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh para pendukung Mahesa Jenar.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +