![]() |
| Jalan Lingkar Sumbing: Ketika Sepotong Aspal Menjadi Ruang Pandang Baru di Wonosobo |
Wonosobo Media - Tak semua jalan diciptakan hanya untuk dilalui. Sebagian di antaranya, tanpa disangka, justru mengundang orang untuk berhenti sejenak menarik napas, memandang, lalu jatuh cinta.
Nah, itulah yang kini terjadi di Jalan Lingkar Sumbing, di Kabupaten Wonosobo.
Ruas jalan yang membentang di lereng Gunung Sumbing ini belakangan ramai dibicarakan warganet.
Bukan karena kemacetan atau kecelakaan, melainkan karena panorama Sindoro–Sumbing yang tersaji nyaris tanpa penghalang.
Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan hamparan perbukitan hijau, kebun tembakau, dan siluet dua gunung besar yang berdiri seolah saling menjaga.
Awalnya, Jalan Lingkar Sumbing hanyalah jalur alternatif penghubung wilayah Butuh dan Bowongso di Kecamatan Kalikajar.
Jalan ini dibangun untuk memperlancar mobilitas warga, terutama petani dan masyarakat desa di lereng gunung. Namun setelah dilakukan pelebaran dan penataan, wajahnya berubah.
Dari jalan sempit yang sekadar fungsional, sekarang menjelma menjadi lintasan yang nyaman sekaligus estetik.
Lebar jalan yang kini lebih lapang membuat pengendara merasa aman untuk melaju pelan, bahkan berhenti sejenak.
Di titik-titik tertentu, banyak orang sengaja menepi mengabadikan pemandangan, merekam video perjalanan, atau sekadar duduk di atas motor sambil menikmati udara pegunungan yang dingin dan bersih.
Menariknya, keindahan Jalan Lingkar Sumbing bukan jenis keindahan yang dibuat-buat. Ia tidak lahir dari dekorasi buatan, bukan pula hasil konsep wisata instan.
Lanskap yang tersaji adalah alam apa adanya: Sindoro dan Sumbing berdiri megah, ladang-ladang warga terhampar tenang, dan langit Wonosobo yang kerap berubah cepat kadang cerah, kadang berkabut tipis.
Tak heran jika jalan ini kemudian viral di media sosial. Banyak pengguna menyebutnya sebagai “jalur healing”, tempat menikmati Wonosobo dari sudut yang berbeda.
Bukan seperti Dieng yang penuh agenda wisata, Jalan Lingkar Sumbing menawarkan pengalaman yang lebih sunyi—pengalaman memandang tanpa harus melakukan apa-apa.
Namun di balik popularitas itu, ada harapan yang lebih besar. Kehadiran jalan ini membuka peluang baru bagi warga sekitar.
Warung kopi sederhana, lapak jajanan, hingga potensi wisata desa mulai dilirik. Jalan yang semula hanya dilalui, kini mulai menghidupkan ekonomi kecil di sekitarnya.
Bagi Wonosobo, Jalan Lingkar Sumbing adalah pengingat bahwa pembangunan infrastruktur tak selalu harus berhenti pada fungsi teknis.
Ketika dirancang dengan baik dan dirawat dengan kesadaran, ia bisa menjadi ruang temu: antara manusia dan alam, antara mobilitas dan kontemplasi.
Jalan ini mungkin tidak membawa wisatawan langsung ke puncak gunung. Tetapi ia menghadirkan sesuatu yang tak kalah penting: kesempatan untuk melihat Wonosobo dengan cara yang lebih pelan.
Berada di zaman yang serba tergesa, barangkali itulah kemewahan paling langka yang bisa dinikmati sekarang ini.

.webp)