![]() |
| Mirong, Rempeyek Udang Khas Tegal: Kriuk Mewah yang Setia Jadi Lauk Pelengkap |
Wonosobo Media - Bagi yang belum akrab dengan kosakata kuliner Pantura, mirong adalah rempeyek udang khas Tegal. Berada di beberapa tempat, kuliner ini juga dikenal dengan nama gimbal udang.
Intinya sama: udang yang biasanya tampil gagah di menu mahal, kini bisa mendadak rela digoreng tipis-tipis dan dijadikan peyek.
Terus terang, pertama kali bagi segelintir orang ketika melihat mirong rasanya agak ganjil. Kita sudah terlalu terbiasa dengan rempeyek kacang yang sederhana dan merakyat.
Lah ini, udang malah dijadikan peyek. Rasanya seperti melihat orang berdasi duduk di bangku warung kopi: kok mau-maunya? misalnya begitu, jika sebuah makanan juga ada strata sosialnya. tetapi itu kan sekadar makanan belaka ya.
Meski begitu, secara fungsi, mirong tak beda jauh dengan kerabatnya sesama peyek. Ia bukan menu utama. Mirong hadir sebagai pelengkap, sebagai pemantik suasana makan agar ada bunyi kriuk-kriuk yang memecah kesunyian piring.
Tanpa peyek, makan nasi dan sayur asem yang diracik khas di Tegal ini bakal terasa kurang greget, dan mirong datang sebagai penyempurna perjalanan rasa ketika singgah di Tegal tentunya.
Di Tegal, mirong bukan barang langka. Ia bisa ditemui di warteg pinggir jalan sampai rumah makan sayur asem yang berlabel “elit”. Bedanya jelas: soal populasi udang.
Sementara, di warteg, mirong biasanya berisi satu sampai dua ekor udang itu pun kalau lagi mujur, berbeda di rumah makan sayur asem yang lebih “berkelas”, udangnya lebih royal, seakan ingin menegaskan bahwa ini peyek, tapi tetap berwibawa.
Pada akhirnya, mirong adalah contoh bagaimana kuliner lokal tak pernah kehabisan akal. Udang tak harus selalu berenang di kuah mahal atau bertengger di piring restoran besar.
Berada di tangan orang Tegal, udang bisa turun kasta dengan elegan, bisa disajikan menjadi peyek, atau jadi teman nasi, dan yang paling inti tetap bikin kangen jika kalian adalah seorang perantau yang lagi jauh dari kampung halaman Tegal.

