![]() |
| Rekomendasi Kuliner Malam di Semarang yang Wajib Dicoba, dari Legendaris hingga Viral |
Wonosobo Media - Semarang punya kebiasaan unik: ia tidak sepenuhnya tidur saat malam tiba. Justru ketika senja pamit dan lampu jalan mulai bekerja.
Kota ini membuka wajah lain, wajah yang beraroma bawang goreng, sambal pedas, dan kuah hangat yang mengepul pelan. Berada di sinilah kuliner malam Semarang mengambil peran sebagai penanda hidup yang tak pernah benar-benar berhenti.
Berbeda dengan kota-kota lain yang kuliner malamnya seragam, Semarang menyajikan pengalaman rasa yang berlapis.
Ada sajian kuliner malam yang legendaris, ada yang viral, ada pula yang diam-diam jadi langganan warga lokal sejak puluhan tahun lalu.
Gudeg yang Tak Manis-Manis Amat
Jika gudeg identik dengan rasa manis, Semarang menawarkan pengecualian. Di beberapa sudut kota, gudeg hadir dengan karakter gurih, disandingkan koyor empuk dan kuah opor yang kaya rempah.
Makanan ini sering jadi pelarian orang-orang yang pulang larut, mencari penghangat perut sebelum tidur. Lokasi: Jl. Mataram, Wonodri, Kec. Semarang Sel., Kota Semarang, Jawa Tengah. Jam buka: Setiap hari (17.00-02.00 WIB).
Seafood Pedas untuk Malam yang Ramai
Di kawasan tertentu, deretan tenda seafood justru makin hidup saat malam semakin larut. Kerang, tiram, hingga lobster disajikan dengan bumbu pedas menyengat.
Sensasi makan sambil berkeringat, ditemani obrolan dan asap panggangan, menjadi ritual khas kuliner malam Semarang yang sulit ditolak.
Kuliner malam ini tepatnya ada di: Jl. Kedungmundu No.136, Tandang, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan jam Buka: Setiap hari (17.00-22.00 WIB), yakali nggak singgah kesini lurs.
Dim Sum dan Nongkrong Tanpa Jam Tutup
Tak semua kuliner malam Semarang berwujud tenda kaki lima. Ada pula tempat makan yang buka nyaris 24 jam, menyajikan dim sum hangat dan teh panas.
Tempat semacam ini menjadi persinggahan favorit: bagi yang lapar setelah kerja, atau sekadar ingin mengulur waktu sebelum pulang.
Warung Dim Sum (Wardim) ini berada di: Jl. Kh Ahmad Dahlan No.2, Pekunden, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah Jam buka: Buka 24 jam.
Nasi, Telur, dan Sambal yang Bicara Keras
Di Semarang, nasi malam jarang hadir sendirian. Ia datang bersama telur dadar renyah, aneka lauk, dan sambal yang tak setengah-setengah.
Ada yang mengusung konsep pedas brutal, ada pula yang lebih bersahabat tapi tetap menggugah. Sederhana, tapi justru itulah daya tariknya.
Rekomendasi kuliner malam di Semarang ini adalah Sego Dadar Cetar yang bertempat di: Jl. MT. Haryono No.874, Peterongan, Kec. Semarang Sel., Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan buka: Setiap hari (19.00-01.00 WIB).
Bakmi Arang dan Aroma Masa Lalu
Beberapa warung bakmi di Semarang masih mempertahankan cara memasak lama: menggunakan arang. Proses ini bukan sekadar soal teknik, tapi juga soal rasa dan aroma.
Setiap suapan membawa kesan smokey yang tak bisa digantikan kompor modern. Ini bukan hanya soal makan, tapi tentang merawat tradisi.
Nasi Goreng Babat dan Denyut Kota Lama
Di sekitar kawasan Kota Lama, nasi goreng babat menjadi menu yang tak pernah sepi peminat. Babat empuk, nasi yang digoreng pas, dan suasana bangunan tua di sekitarnya menciptakan pengalaman makan yang terasa khas Semarang bertemu antara sejarah dan selera.
Nasi goreng babat yang khas dan legendaris ini berada di: Jl. Pemuda No.2, Dadapsari, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah Jam buka: Setiap hari (10.00-23.00 WIB).
Kuliner malam di Semarang bukan hanya soal rasa. Ia adalah ruang sosial, tempat orang-orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk siang. Di meja sederhana, obrolan mengalir, tawa pecah, dan lelah perlahan luruh.
Malam di Semarang mengajarkan satu hal: kota ini tak pernah benar-benar sepi. Ia hanya berganti bahasa dari suara klakson siang hari menjadi bunyi sendok, wajan, dan percakapan lirih di bawah lampu jalan.
Nah dari uraian di atas khususnya perihal Semarang ini kita dapat menemukan denyut hidupnya yang paling jujur.

