• Jelajahi

    Copyright © Wonosobo Media
    Wonosobo Media Network

    Iklan

    Membaca Karya KH Ahmad Rifa’i: 25 Faidah Sholat Lima Waktu yang Jarang Diketahui

    , 14.45 WIB
    KedaiKlenik | Madu Murni Indonesia
    Membaca Karya KH Ahmad Rifa’i: 25 Faidah Sholat Lima Waktu yang Jarang Diketahui
    Membaca Karya KH Ahmad Rifa’i: 25 Faidah Sholat Lima Waktu yang Jarang Diketahui.


    Wonosobo Media - Lanjutan dari sebuah manuskrip karya KH Ahmad Rifa'i yang sebelumnya menuliskan sebuah syiiran yang menceritakan tentang sebuah fenomena zaman akhir


    Syiiran tersebut diselingi dengan sebuah kalimat "hauqolah" la Haula wala quwata Illa billahil 'aliyyil-adhim. Masih dalam lebaran yang sama, tulisan KH Ahmad Rifa'i menuliskan sebuah faidah dari sholat lima waktu


    Ia mengutip sebuah dawuh Kanjeng Nabi, sebagai berikut ini redaksi teksnya: "Ngendika kanjeng rasulullah shalallahu alaihi wasallam utawi faidahe sholat limang wektu iku selawe werna. 


    Terjemahan, Kanjeng Rasulullah Saw bersabda faidah dari sholat lima waktu itu ada 25 macam.


    "Kang dingin iku dadi sebab oleh ridone pengeran, lan kapindo iku angasahaken malaikat, lan kaping telu dadi sebab tondo anute ing kelakuan para nabi, lan kapingpat iku dadi padang makrifate ing Allah tangala lan kaping lima sentosa iman,"

    Pertama yaitu menjadi sebab mendapat ridho dari Tuhan, Kedua, mengasah jiwa hingga disukai para malaikat.

    Ketiga, menjadi tanda mengikuti laku dan jejak para nabi.

    Keempat, menerangi jalan makrifat kepada Allah Ta‘ala. Kelima, menguatkan serta meneguhkan iman dalam dada. 

    "Kapingnem dadi sebab istijab penyuwunane, kaping pitu dadi sebab ketrima sekabehe ngamal, lan kaping wolu dadi sebab berkah ingdalem rizkine, kaping songo dadi sebab tinemu rahmat badane ora sari' sernge, kaping sepuluh dadi sebab .. selamet adoh atase seteru, kaping sewelas dadi sebab anyengitaken ing sekehe syaiton."


    Keenam, menjadi sebab dikabulkannya segala doa dan permohonan. Ketujuh, menjadi sebab diterimanya seluruh amal perbuatan.


    Kedelapan, menjadi sebab turunnya keberkahan dalam rezeki. Kesembilan, menjadi sebab hadirnya rahmat, sehingga badan terjaga dari penyakit dan keburukan yang membahayakan.


    Kesepuluh, menjadi sebab keselamatan, dijauhkan dari musuh dan mara bahaya. Kesebelas, menjadi sebab terusirnya godaan dan gangguan setan.


    Selanjutnya KH Ahmad Rifa'i menuliskan dengan bahasa arab, hanya saja tulisan dalam manuskrip tersebut agak kurang bisa dibaca atau "ngeblur", dalam istilah kajian filologi kasus seperti ini disebut dengan illegible.


    Berikut ini beberapa kalimat yang masih bisa terbaca, ikilah malih tepunge ngarep syafi' baina shohibiha wa baina malaikat.... Dengan teks berbahasa arab bertinta merah tulisan pada part ini agak kurang bisa terbaca, tetapi menjadi agak jelas sepertinya itu bagian dari kalimat teks arabnya yang di kalimat berikutnya seperti penjelasan atau maknanya.


    "Lan kaping rolas dadi syafaat antarane qerabate lan antarane malaikat maut. Lan kaping telulas dadi eling ingdalem qubur, lan kaping pat belas dadi lelayu ing ngisore qubur, lam kaping limolas dadi penjawabe pitakonane malaikat Munkar nangkir, kaping nembelas dadi pepadang ingdalem quburan, lan tatkalane besok dino kiyamat. Kaping pitulas iku ana faidahe sholat dadi payungan ing luhure."


    Terjemahannya, Kedua belas, menjadi sebab datangnya syafaat di antara kerabatnya dan ketika berhadapan dengan Malaikat Maut.

    Ketiga belas, menjadikan dirinya tetap ingat dan sadar ketika berada di dalam kubur.

    Keempat belas, menjadi penenang dan kelapangan saat berada di alam kubur.

    Kelima belas, menjadi jawaban atas pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.

    Keenam belas, menjadi cahaya penerang di dalam kubur dan kelak pada hari kiamat.

    Ketujuh belas, shalatnya kelak menjadi naungan yang menaunginya ke tempat yang luhur.


    "Ikilah tepunge malih...", ndilalahnya ketika KH Ahmad Rifa'i mengutip teks arabnya pada halaman manuskrip yang telah digitalisasi ini belum bisa terbaca. 


    Hanya saja bisa menjadi patokan atau pijakan bahwa kalimat itu bagian dari teks berikutnya seperti pada kutipan teks berbahasa sebelumnya yang belum bisa terbaca karena tulisannya blur seperti terkena air.


    "lan kaping wolulas dadi makuto atase ing sirahe, lan kaping sangalas dadi nur kang madangi sandangane. Kaping rongpuluh dadi nur kang madangi antarane ngarepane wong iku. Lan kaping selikur dadi aling-aling antarane wong iku lan antarane neraka. 


    Lan kaping rolikur dadi hujjah antarane ana ingarsane pengeran, lan kaping telulikur dadi angabotaken ing timbangan, kaping patlikur biso lewat ono ing wot, lan kaping selawe dadi pambuko ingdalem suwargo."


    Kedelapan belas, menjadi mahkota yang tersemat di atas kepalanya. Kesembilan belas, menjadi cahaya yang menerangi pakaiannya.


    Kedua puluh, menjadi cahaya yang menyinari jalan di hadapannya.Kedua puluh satu, menjadi penghalang antara dirinya dan api neraka.


    Kedua puluh dua, menjadi hujjah (argumen kuat) ketika ia menghadap Tuhan. Kedua puluh tiga, menjadi pemberat dalam timbangan amalnya.


    Kedua puluh empat, memudahkannya melintasi titian (shirath). Kedua puluh lima, menjadi pintu pembuka baginya menuju surga.


    Nah itu dia gambaran dari sebuah ulasan ketika membaca manuskrip karya KH Ahmad Rifa'i Kalisalak Limpung Kabupaten Batang yang bisa kita gali keilmuannya. Menjadi hal baru pula sebagai generasi Z misalnya, perihal bahasa pun kita agak keteteran untuk mengolah dan mencerna. 


    Sebagaimana pendahulu, khususnya Mbah Ahmad Rifa'i ini ketika menulis karyanya pertimbangannya salah satu tentu bagian dari menyederhanakan pemikiran atau teks arabnya lalu dibuat dengan syiir, tembang, berbahasa Jawa agar ummat mudah memahami. Wallahu a'lam bishowab.***

    Tulisan yang terkait: Nasihat Lembut KH Ahmad Rifa’i dalam Syiiran Akhir Zaman yang Mudah Dihafal


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    iklan mgid

    Yang Menarik

    +