| Kawruh Begja dan Barang Asal: Epistemologi Ki Ageng Suryomentaram tentang Pengetahuan Sejati |
Wonosobo Media - Ki Ageng Suryomentaram dalam Kawruh Bab Kawruh yang bisa kita sebut secara sederhana sebagai epistemologi “kawruh begja”meletakkan satu fondasi penting: bahwa segala pengetahuan berangkat dari apa yang disebut sebagai Barang Asal.
Ki Ageng Suryomentaram memberikan pijakan seperti ini:
“Patokaning kawruh punika Kawruh Barang Asal. Pathokan punika tegesipun dhedhasar utawi wiwitan, kawruh punika dhedhasaripun weruh lan ingkang dipun weruhi. Mila Kawruh Barang Asal punika pathokaning kawruh, jalaran Barang Asal punika maligi weruh lan ingkang dipun weruhi, mboten wonten adon-adonan sanesipun.”
Dari sini, terang bahwa landasan pengetahuan menurut Ki Ageng adalah Barang Asal. Dalam kesempatan lain, istilah ini juga disebut sebagai Bakal Barang. sebuah konsep perihal asal muasal dari segala sesuatu. Meski menggunakan kata “barang”, yang dimaksud jelas bukan sekadar benda, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: asal dari segala yang ada.
Secara sederhana, pathokaning kawruh, dasar pengetahuan adalah Barang Asal atau Bakal Barang itu sendiri. Ini adalah Sang Asal yang tidak berawal. Dalam bahasa lain, bisa disebut sebagai The Ultimate Reality, Yang Mutlak, Yang Absolut atau bahkan bisa disebut Tuhan.
Namun dengan satu catatan penting: Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan sebagaimana adanya, Tuhan yang mutlak, bukan Tuhan hasil konstruksi imajinasi manusia. Sebab di sinilah letak persoalannya.
Menurut Ki Ageng, pathokan berarti dasar atau permulaan. Cara kita memahami Barang Asal akan menentukan cara kita memahami segala sesuatu setelahnya. Jika dasarnya keliru, maka seluruh bangunan pengetahuan kita pun ikut melenceng.
Ki Ageng Suryomentaram kemudian membedakan secara tegas antara weruh (tahu) dan ngira weruh (mengira tahu). Keduanya tampak mirip, tetapi sejatinya bertolak belakang.
Orang yang weruh melihat sesuatu sebagaimana adanya, apa adanya. Sementara orang yang ngira weruh melihat sesuatu berdasarkan imajinasi, prasangka, atau konstruksi pikirannya sendiri. Bahwa merasa tahu, padahal yang dipegang hanyalah bayangan dari pikirannya.
Pada titik ini, pengetahuan tentang Barang Asal menjadi sangat krusial. Sebab dalam wilayah ini, yang bekerja seharusnya hanya dua hal: si tahu (weruh) dan yang diketahui (ingkang dipun weruhi). Tanpa campuran, tanpa polesan, tanpa tafsir berlebihan dari si ngira weruh.
Pertanyaannya kemudian menjadi reflektif: apakah kita benar-benar weruh terhadap Barang Asal? Ataukah selama ini kita hanya ngira weruh?
Ki Ageng Suryomentaram bahkan memberikan sebuah perenungan yang bisa dibilang halus namun tajam terhadap cara manusia memahami kebenaran, termasuk dalam memahami Tuhan. Sebagaimana pada kutipan ajaran kawruh begjanya.
“Tiyang asring ribed prakawis kawruh nyata tetep. Reribed wau makaten, 2×2=4 punika rak pangertos tiyang. Yen tiyang sajagad punika pejah, kalih kaping kalih sekawan lajeng boten wonten. Lan malih, 2×2=4 punika rak naming kawontenan pikiran. Lha mangka kawontenan punika santun-santun.”
Manusia kerap bingung menerima kenyataan bahwa pengetahuan sejati yang berbasis weruh, bersifat tetap. Orang mengira bahwa kebenaran seperti 2×2=4 hanyalah hasil kesepakatan atau konstruksi pikiran. Dalam bayangannya, jika semua manusia mati, maka kebenaran itu pun ikut lenyap.
Padahal, menurut Ki Ageng Suryomentaram, anggapan semacam itu lahir dari kekeliruan mendasar: mengira bahwa realitas bergantung pada pikiran. Padahal justru sebaliknya, pikiranlah yang selalu berubah-ubah—santun-santun—tidak pernah benar-benar ajeg.
Dari sini kita diajak untuk menata ulang cara mengetahui: beranjak dari sekadar ngira weruh menuju weruh yang jernih. Sebab hanya dengan itulah, pengetahuan tidak lagi menjadi ilusi, melainkan benar-benar menyentuh pada apa yang ada, pada Barang Asal itu sendiri. Wallahu a'lam bisshowab.
