![]() |
| Memahami Bungah ke Susah: Siklus Keinginan Menurut Ki Ageng Suryomentaram/ilustrasi:alun-alunKebumen2025. |
Wonosobo Media - Terdapat satu wejangan sederhana namun dalam tentang hidup manusia: bahwa bungah (senang) dan susah (sedih) sejatinya tidak pernah ajeg, atau tidak pernah benar-benar menetap.
Wejangan dari Ki Ageng Suryomentaram ini bisa kita simak dari kutipan berikut: “Bungah lan susah ora bisa ajeg.”
Artinya, kebahagiaan dan kesedihan itu sifatnya tidak tetap. Keduanya datang dan pergi, silih berganti dalam kehidupan manusia.
Bungah: Saat Keinginan Terpenuhi, Tapi Tak Pernah Selesai
“Bungah, iku jalaran saka karepe kalakon, ing mangka ugere karep mau kalakon (bungah) iku banjur mulur. Yen karep mulur iku kalakon, iya banjur mulur manèh, mangkono ing sabanjure mung tansah mulur-mulur bae, nganti katanggrok - apa kang ora ana - la, ora kalakon, banjur susah.”
Perihal bungah ini muncul ketika keinginan (karep) kita tercapai. Tapi di situlah awal dari persoalan. Keinginan yang sudah terpenuhi tidak berhenti begitu saja.
Malahan hal ini justru mulur atau memanjang, melahirkan keinginan-keinginan baru. Ketika satu tercapai, muncul lagi yang lain. Terpenuhi lagi, muncul lagi dan seterusnya tanpa ujung.
Sampai pada satu titik, kita bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi apa kang ora ana. Nah dari sinilah keinginan berhenti, dan rasa bungah berubah menjadi susah.
Susah: Saat Keinginan Gagal, Tapi Masih Bergerak
Sementara itu, Ki Ageng lanjut ketika membahas tentang susah begini kutipannya:
“Susah, iku jalaran saka karepe ora kalakon, ing mangka ugere karep mau ora kalakon (susah) iku banjur mungkret. Yen karep mungkret iku ora kalakon, iya banjur mungkret maneh, mangkono ing sabanjure mung tansah mungkret-mungkret bae, nganti katanggrok - apa kang ana - la, kalakon, banjur bungah.”
Susah datang ketika keinginan tidak terpenuhi. Namun, seperti halnya bungah, rasa ini juga tidak diam, mungkret ini artinya menyusut, berubah arah, mencari kemungkinan lain.
Keinginan yang gagal tidak hilang, melainkan berganti bentuk, lalu ketika akhirnya ada satu saja yang bisa terpenuhi apa kang ana maka susah itu pun berbalik menjadi bungah.
Hidup: Di Antara Mulur dan Mungkret
“Ing salawas-lawase mangkono bae, ugere karep iku kalakon (bungah), banjur mulur, nganti katanggrok ora kalakon (susah), banjur mungkret, nganti katanggrok kalakon (bungah), banjur mulur maneh. Mulane lelakoning uwong iku mung gek bungah gek susah.”
Sepanjang hidup, manusia bergerak dalam pola yang sama, ketika keinginan tercapai, kita bungah lalu keinginan itu mulur lagi. Kemudian ketika keinginan gagal, kita susah lalu keinginan itu mungkret, mencari jalan lain, begitu terus dan berulang tanpa henti.
Itulah sebabnya, hidup manusia hanya berputar di antara dua hal: sebentar bungah, sebentar susah, atau istilah Ki Ageng, bungah-susah.
Dari wejangan ini, kita diajak untuk menyadari satu hal penting: bahwa sumber bungah dan susah bukan semata-mata dari luar, melainkan dari dalam diri kita sendiri tepatnya bagian dari karep atau keinginan yang terus bergerak.
Selama keinginan itu masih terus mulur dan mungkret, selama itu pula kita akan terus berayun antara senang dan sedih.
Barangkali, yang perlu kita pelajari bukan cara menghindari susah atau mengejar bungah, melainkan memahami gerak keinginan itu sendiri. Karena di situlah kunci dari laku hidup yang lebih jernih. Wallahu a'lam bishowab.

